Alicia Menolak Bullying

Remaja ini menggagas sebuah pameran seni rupa sebagai medium untuk merefleksikan apa dan bagaimana bullying terjadi di sekitar kita.

Bulan Februari, 2016. Seorang remaja tanggung yang sedang menempuh tahun ketiganya di bangku SMA itu termangu melamun di gerbong kereta. Ia menatap layar televisi yang sedang memutarkan sebuah film. Dion Nataraja, si remaja itu sedang dalam perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta. Keseksamaannya menonton film itu disebabkan oleh seorang tokoh yang memiliki daya tarik cukup kuat bagi dirinya. “Ketika aku nonton film Knowing di kereta, sepanjang perjalanan aku pribadi merasa memiliki kesamaan cerita dan nasib dari seorang tokoh bernama Alicia,” kenang Dion.

Ketertarikan tersebut menghasut hasratnya untuk segera mengeluarkan buku sketsa dari tas dan merepresentasikan ulang tokoh itu dalam sebuah gambar. Gambar tersebut yang menjadi karya sekaligus gagasan awal dari pameran bertajuk “Alicia is Non-Existent: Thus She Create Herself” , kolaborasi Dion dan rekannya Adrian Paanday.

Selasa sore itu (23/8) sambil sesekali diselingi menerima kawan-kawannya yang hadir, Dion bercerita ihwal debut pamerannya. Tanpa ditemani Adrian Paanday, ia bercerita cukup panjang mengenai kenekatannya berpameran. Pameran yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 Agustus 2016, di IFI-LIP ini awalnya direncanakan sebagai pameran tunggal, tapi belakangan pameran ini menjadi proyek kolaborasi. “Ada konsep yang lebih menjanjikan bila pameran ini dikolaborasikan,” papar remaja berambut gondrong itu.

Alhasil dirinya mengajak Adrian untuk turut serta terlibat menyelenggarakan pameran tersebut. Keduanya memiliki kesamaan yang cukup menarik: belum memiliki portofolio yang serius di kancah seni rupa. Dion dan Adrian benar-benar masih ‘bocah kemarin sore’.

Pameran ini benar-benar hanya bermodal hobi yang selama ini mereka tekuni. Dion yang sehari-hari sekadar hobi menggambar dan melukis, serta Adrian yang menganggap fotografi hanya sebagai hobi, dengan “kolot”-nya mantap menceburkan diri ke dalam kancah seni rupa. Namun setidaknya “kehijauan” dua pengkarya ini justru membawa sesuatu yang cukup segar, termasuk mengenai apa yang dibicarakan dalam pameran yang mereka usung. “Kami memilih untuk berbicara mengenai bullying dalam debut kami”, jelas Dion.

Bullying yang kita kenal sebagai salah satu polemik dalam lingkup pergaulan anak muda, dipilih sebagai material yang lantas mengkonstruksi kisah Alicia. Sosok dan kompleksitas kisah Alicia sendiri dihadirkan sebagai representasi pengalaman banyak orang. “Termasuk pengalaman kami, khususnya pengalamanku,” kata Dion. Berbicara mengenai bullying, keduanya sepakat untuk berpijak pada sudut pandang seseorang yang memiliki pengalaman pahit berkenaan dengan bullying.

Untuk semakin menggambarkan sengkarut pengalaman itu, foto-foto eksperimental Adrian dipilih sebagai medium narasi pameran. Sedangkan guratan lukisan Dion disandingkan untuk membangun mood yang ekspresif. Menurut mereka, dengan mengambil sudut pandang tersebut, karya-karya yang disuguhkan memiliki potensi untuk dapat lebih diterima sebagai sebuah karya yang reflektif. “Karena hal yang kerap kali luput dari pembicaraan mengenai bullying adalah upaya rekonsiliasi untuk memutus lingkaran setan itu,” terang Dion.

Bila argumen dari relevansi topik bullying ini diragukan, terlebih kaitannya dengan konteks pameran seni rupa, maka menurut Dion sah-sah saja bila argumen tersebut juga patut diragukan. Mungkin bagi beberapa orang, termasuk bagi mereka yang sudah akrab dengan dunia kesenian baik sebagai pelaku maupun sebagai penikmat, tema dari karya duet Dion Adrian ini dirasa wagu dan boleh jadi dianggap sama sekali tidak nyeni.

Namun setidaknya, selama masih ada bullying di ranah cyber maupun di kehidupan riil, maka topik ini masih senantiasa relevan untuk diperbincangkan termasuk melalui medium seni. Bagi mereka, semakin jujur sebuah seni maka semakin baik. “Enggan rasanya untuk menyelenggarakan pameran dan berbicara mengenai wacana-wacana kritis yang ndakik-ndakik, sedangkan di satu sisi, masih banyak hal-hal yang lebih kongkrit dan lebih kontekstual untuk dibicarakan,” tukas Dion.

Untuk keperluan artistik karya, keduanya mengaku tidak melakukan semacam proses mentoring secara khusus kepada siapa pun. Bereksperimen sekaligus mempelajari teknik lukis dan fotografi secara otodidak menjadi kunci karya-karya yang mereka pamerkan. Bahkan beberapa teknik pengkaryaan ada yang mereka pelajari dari video-video yang beredar di situs Youtube.

Dion mencontohkan, untuk karya lukisnya yang berjudul “Valueless Human”, karya itu ia buat dengan teknik lukis chiaroscuro yang dikenalkan oleh pelukis Rembrandt di masanya. “Teknik lukis chiaroscuro itu ternyata ada di Youtube, sehingga dari sanalah aku bereksperimen dan iseng-iseng bikin lukisan”, aku Dion.

Selain itu dirinya juga mencari secara mandiri rujukan-rujukan seni rupa seperti kumpulan esai Enin Supriyanto. Dion juga mengaku sempat berdiskusi untuk beberapa keperluan seperti mematangkan topik yang diangkat dalam pameran dan displaying. “Untuk membuat display yang menarik, kami sempat berdiskusi juga dengan mbak Yustina Neni dari Kedai Kebun Forum”, ceritanya.

Dari segi proses Dion sendiri mengaku apa yang mereka berdua persiapkan mirip seperti shooting sinetron kejar tayang. Segalanya berjalan dengan spontan dan penuh kejutan. “Displaying misalnya, kita baru mulai H-1 pameran. Itu pun kami mulai di malam hari pukul 9. Bahkan ada beberapa karya yang baru selesai beberapa jam sebelum pembukaan pameran,” kenang Dion.

Maka tak heran bila secara visual, cukup kentara didapati beberapa kekurangan. Seperti misalnya pemilihan warna hitam untuk pattern di dinding ruangan. Alih-alih mewujudkan suasana yang artsy dan photo-able, justru kesan yang muncul adalah kotor. Hal ini sekaligus membuyarkan intensi reflektif yang berusaha dibangun dari kompleksnya pengalaman Alicia.

Sebuah kursi yang sengaja diletakkan di pojok galeri untuk membentuk dramaturgi pameran juga kurang direspon sehingga keberadaannya justru bermakna disorientasi. Beberapa karya lukis pun masih terkesan kurang artistik, terutama untuk karya-karya yang oleh Dion sendiri diakui sebagai hasil eksperimen dan coba-coba.

Walaupun secara eksekusi dan artistik masih banyak kekurangan di sana-sini, namun apresiasi tetap layak dilayangkan untuk keberanian mereka melakoni debut berpameran. Ketika ditanya mengenai keraguan menyelenggarakan pameran, tak terbersit sedikit pun untuk mundur dari apa yang telah mereka gagas.

“Kami tahu persis bahwa belantika seni rupa di Yogyakarta ini sangat hierarkis. Senioritasnya cukup kuat dan kental,” terang Dion. Namun lanjutnya, “Dengan keberanian dan kekukuhan kami menyelenggarakan Alicia is Non-Existent ini, sebenarnya kami ingin menjadi representasi atas pernyataan sikap bahwa seni rupa itu universal dan inklusif,” tegas Dion.

Mereka yakin bahwa ahli waris yang sah dari seni rupa tidak merujuk pada pihak-pihak tertentu sahaja. Siapa saja, termasuk yang amatiran seperti dirinya dan Adrian, berhak untuk turut berpartisipasi dalam karya. “Iklim berkesenian yang fair, entah mengapa sukar terwujud. Ini terbukti dari beberapa galeri yang mungkin gengsi menerima debutan seperti kami. Sehingga kami ditolak, baik secara halus maupun dengan semena-mena,” kenang Dion.  “Eh tapi aneh juga ya, kami bicara tentang bullying, tapi malah kena bully juga ternyata. Baru sekarang juga sadar ternyata nyambung hehe,” tambahnya.

Menurut hemat Dion, akan lebih kongkrit bilamana mereka yang sudah khatam di kancah seni rupa menjadi mentor buat mereka yang masih hijau. “Sederhana saja sebenarnya, misal bisa datang ke pameran-pameran kroco kaya gini, lalu kalau memang dirasa jelek dan banyak kurangnya, ‘kan lebih well serta fair kalau itu disampaikan to? Toh kami yang masih kemarin sore ini juga akan lebih senang hati menerimanya sebagai evaluasi” tukas Dion seraya terkekeh.

Setelah ini, pelajar yang akan melanjutkan pendidikan menengahnya di Negeri Kincir Angin itu berharap bisa konsisten berpameran. Ia berharap dari konsistensinya berpameran sedini mungkin, ia lantas bisa merangkul kawan-kawannya yang memiliki potensi di bidang seni apapun, khususnya seni rupa untuk membuat wadah berkesenian yang monumental. “Rujukannya mungkin seperti ArtJog ya. Cuma yang jelas untuk seniman muda dan harus egaliter, setara hahaha,” tukas Dion menutup obrolan santai sore itu.

Aloysius Bram

Aloysius Bram

Mengasuh altrouismo.wordpress.com. Tertarik dengan kajian di ranah budaya populer dan seni. Kontak via: aloysiusbram@gmail.com atawa @bramskoy (IG&Twitter).
Aloysius Bram

Latest posts by Aloysius Bram (see all)