Moshing Bersama Nasida Ria

Sekumpulan penonton muda urban tak kuasa menolak panggilan badan untuk bergoyang ketika irama kasidah berkumandang.

Antusiasme penonton mulai naik ketika belasan perempuan berbusana panjang warna merah marun yang serasi dengan kerudungnya tertatih-tatih menuruni lereng bukit yang licin seusai hujan. Dituntun panitia, beberapa dari mereka bahkan merasa perlu melepas selopnya agar bisa berjalan dengan lebih leluasa menuju panggung.

Penonton yang semula tercerai berai di lembah perlahan merapat ke depan panggung. Penampilan Nasida Ria, kelompok kasidah dari Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/9) sore itu dalam rangkaian RRREC Fest In the Valley 2016 di Tanakita Camping Ground, Situ Gunung, Sukabumi, Jawa Barat, agaknya memang banyak ditunggu.

Tanpa banyak cakap, begitu sampai di atas panggung mereka segera menata formasi. Tiga personel berdiri di depan membawa biola, lainnya di belakang memegang instrumen masing-masing : ada gitar, bass, kendang, tamborin, seruling, juga keyboard yang kaki penopangnya dipasangi kain beludru hitam bertuliskan nama band dan nomor kontak.

Lalu alunan biola yang bertenaga pun mengangkat suasana. Penonton kian berkerumun. Lagu demi lagu Nasida Ria mereka tanggapi dengan menggoyangkan kepala dan pinggul.

Tepat pada lagu kelima yang berjudul “Perdamaian”, suasana kian semarak. Tak sekadar bergoyang, sebagian besar penonton juga ikut menyanyikan lagu yang liriknya familiar itu. Seorang penonton bahkan melakukan crowd surfing, tampak menyembul ke atas ditopang tangan-tangan penonton lainnya di depan panggung, sebagian penonton ber-moshing ria dalam iringan kasidah bercampur dangdut.

Gempita kasidah Nasida Ria juga mengundang puluhan warga Desa Babakan Kembar yang tinggal tak jauh dari lokasi untuk datang. Anak-anak hingga warga dewasa, terutama ibu-ibu yang mengenakan kerudung, bermunculan lalu berdiri di lereng lembah menyaksikan penampilan mereka.

Soal reaksi penonton, Rien Djamain, personel Nasida Ria mengatakan kelompoknya pernah menghadapi jenis penonton serupa. “Tahun 1996 kami pentas di Jerman, penontonnya juga seperti ini, masih muda-muda,” ujarnya.

Rien adalah personel paling senior di kelompok kasidah yang berdiri pada 1975 itu. Puluhan tahun merasakan berbagai jenis panggung, perempuan yang usianya menginjak kepala enam itu tetap menjaga performanya baik di panggung maupun dalam sesi wawancara. Sebagai juru bicara, ia selalu memberikan pernyataan yang lugas dan tegas seperti pesan dalam lirik lagu yang mereka bawakan.

Sore itu, Nasida Ria tampil ber-13. Seluruh personelnya perempuan, yang merupakan gabungan generasi pertama hingga generasi ketiga. Rien adalah wakil generasi pertama. Adapun generasi ketiga saat ini berada di usia 20 tahunan. Semua personel adalah vokalis yang masing-masing menguasai minimal satu alat musik. Rien, misalnya, bisa memainkan bass dan tamborin.

Choliq Zain, manajer Nasida Ria menuturkan, regenerasi personel dilakukan hingga ke generasi ketiga antara lain karena alasan pergantian personel. Banyak personel yang akhirnya memutuskan berhenti karena ketika menikah mereka harus mengikuti suami pindah dari Kota Semarang. “Sekarang yang mendominasi adalah generasi kedua,” terangnya.

Hingga saat ini, Nasida Ria yang didirikan almarhum HM Zain, ayah dari Choliq, masih memiliki jadwal manggung yang lumayan padat. Setiap bulan mereka tampil antara lima hingga enam kali, kebanyakan di acara syukuran maupun hajatan seperti sunatan dan pernikahan. Tak hanya di seputaran Pulau Jawa, mereka juga merambah Sumatera, Kalimantan, bahkan Malaysia dan Hongkong.

Tampil dalam festival anak muda seperti sore itu bukan hal yang cukup sering mereka lakukan, meski bukan berarti tidak pernah. “Soal penonton, ini yang paling gila … enggak ada masalah, kami multiras, multiagama,” ujar Choliq dengan raut sumringah.

Di luar habitat alaminya, selain di festival sore itu, Nasida Ria pernah tampil di Jerman pada 1994 dan 1996 atas undangan dari lembaga kebudayaan di negara tersebut. Mereka sempat manggung di sejumlah kota. “Walaupun enggak paham bahasanya, mereka asyik nonton,” kesannya soal respons para penonton di Jerman.

Populer

Ketika para penonton muda tampak berkomat-kamit menyanyikan lagu Nasida Ria, bukan berarti mereka mengoleksi rekaman Nasida Ria, atau kerap mendengarkan lagu versi aslinya via youtube maupun soundcloud. Tak sedikit penonton yang baru mendengar nama Nasida Ria sore itu.

Akan tetapi, lagu-lagu Nasida Ria memang familiar. Kita seperti pernah mendengarnya di suatu tempat, sehingga mudah saja untuk ikut berkomat-kamit meski mungkin ada banyak bagian lirik yang tidak tepat benar pengucapannya.

Lagu “Perdamaian” dan “Kota Santri”, misalnya, merupakan lagu populer yang dinyanyikan banyak musisi lain dan diputar berulang-ulang di sekitar suasana Ramadhan dan Idul Fitri sehingga nada dan liriknya menempel di kepala. Namun, baru sore itu, sebagian penonton menyadari bahwa lagu-lagu tersebut pertama kali dinyanyikan oleh Nasida Ria.

Kepopuleran lagu-lagu itu pula yang membuat Indra Ameng, direktur RRREC Fest 2016, tertarik mengundang mereka. “Buat saya mereka legend, supergrup. Secara kualitas bagus dan secara musik populer. Negara kita yang mayoritas Islam pasti semua pernah tahu lagu kayak Perdamaian dan Kota Santri,” katanya.

Secara personal, Ameng mengaku memang kerap mendengarkan karya mereka. Dari situ ia merasa penasaran mengetahui kondisinya saat ini. “Iseng ngecek kan, ternyata mereka aktif di instagram dan facebook. Ya dari situ menghubungi mereka,” ujarnya.

Soal lagu yang populer dan dinyanyikan banyak musisi termasuk kelompok kasidah yang lain, Rien mengaku tidak punya masalah dengan itu. Justru banyaknya musisi yang menyanyikan lagu mereka menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat pada karya Nasida Ria.

Kepopuleran lagu-lagu Nasida Ria itu antara lain didorong oleh pilihan lirik yang sederhana namun punya makna yang kuat. Lirik-lirik dalam lagunya yang berbahasa indonesia tidak melulu bicara soal agama, melainkan juga tema-tema sosial yang dekat dengan semua orang dari semua kalangan. Lagu “Perdamaian”, “Dunia dalam Berita”, “Lingkungan Hidup” hingga “Bom Nuklir”, untuk menyebut beberapa di antaranya, akan selalu relevan untuk dinyanyikan oleh beragam generasi.

Soal lagu beserta pilihan liriknya, Choliq menuturkan bahwa itu merupakan bagian dari konsep Nasida Ria. “Memang sengaja memakai bahasa indonesia biar orang ngerti maksudnya, jadi mudah dicerna,” terangnya.

Di dua album awal, Nasida Ria menyanyikan lagu-lagu berbahasa arab, layaknya gaya samroh maupun hadroh. Lalu setelah abum kedua, sekitar tahun 1978, KH Buchori Masruri, sahabat HM Zain, menyarankan agar Nasida Ria menyanyikan lagu berbahasa indonesia. Tak sekadar memberi saran, KH Buchori Masruri juga menciptakan lagu seperti “Perdamaian”, “Keadilan”,  dan sebagainya dengan menggunakan nama samaran Abu Ali Haidar. Sejak saat itu, album-album Nasida Ria selalu berisi lagu berbahasa arab dan indonesia. Total saat ini ada sekitar 400 lagu yang tertuang dalam 34 album. Lagu- lagu itu diciptakan mulai dari HM Zain (almarhum), KH Buchori Masruri yang pernah menjadi Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama Jawa Tengah, Suhaemi, Iqien Ranis, Muh Gufron, A Hamid dan lain-lain.

Bagi Ameng, Nasida Ria adalah kelompok musik yang menginspirasi. Mereka bisa bertahan selama lebih dari 30 tahun, mampu terus meregenerasi diri, termasuk mengikuti perkembangan zaman dengan membuka akun media sosial seperti instagram dan facebook sehingga bisa bertemu dengan generasi saat ini. “Mereka punya koperasi dan restoran. Mereka juga terbuka, jadi ini keren,” katanya.

Mempertemukan musisi dari beragam generasi dan genre memang menjadi salah satu tujuan RRREC Fest yang digelar sejak 2014 oleh ruangrupa dan RURU Corps. Tahun ini, misalnya, selain Nasida Ria, Ameng dan tim mengundang Suarasama, kelompok world music dari Medan Sumatera Utara yang lebih sering tampil di luar negeri daripada Indonesia. Lalu ada Sarana, Jason Ranti, Sisir Tanah, Harlan, The Adams, Bottlesmoker, Racun Kota, Oomleoberkaraoke, Metzdub, Sattle, Beergembira, Elektro Virgo Ago Go, Viva Los Amigos yang mewakili beragam genre musik.

Panitia juga menghadirkan Sonotanotapenz dari Jepang, Leanna Rachel dari Amerika Serikat, Yellowfang dari Thailand dan Dirgahayu dari Malaysia. Membangun jejaring musik, khususnya di Asia Tenggara, merupakan salah satu fokus bahasan dalam festival ini.

RRREC Fest digelar sebagai festival musik untuk keluarga. Tahun ini jumlah peserta sekitar 200 orang, di luar pengisi acara dan panitia. Tak sedikit peserta yang membawa balita untuk menginap di tenda dan menikmati suasana alam. Selain musik peserta bisa mengikuti berbagai diskusi dan lokakarya, antara lain lokakarya boneka lentera bersama Papermoon Puppet Theatre, mural bersama The Popo, foto bersama Anton Ismael dan lain-lain.

Para pengisi acara berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sedangkan para pegiat musik Sukabumi antara lain dilibatkan dalam lokakarya “Introducing The Band” bersama Wok The Rock.

Di acara ini, panitia juga mempersilakan para penampil menjajakan suvenirnya, baik berupa kaus, tas, pin, CD dan sebagainya. Khusus untuk Nasida Ria, panitia sengaja membuat kaus yang bergambar modifikasi sampul album Celebration Day-nya Led Zeppelin di bagian depan dan lirik lagu “Bom Nuklir” di bagian belakang.

Kaus berwarna kuning itu laris manis. Di hari terakhir festival, seorang penonton muda tampak mengenakannya dengan bangga.

Idha Saraswati

Idha Saraswati

Peminat seni, budaya dan media. Bisa dihubungi di jatisaras@gmail.com.
Idha Saraswati

Latest posts by Idha Saraswati (see all)