Sepotong surat Kartini bertanggal 6 November 1899 di bawah ini kiranya cocok mengawali penulisan mengenai Sin Po. Sebagai pengingat, pemikiran Kartini tentu saja masih menggunakan kacamata masyarakat elite non-kolonial 127 tahun lalu.
Dalam suratnya, Kartini menilai penguasaan bahasa Belanda akhir abad ke-19 mungkin dapat menjawab kegelisahan dan mampu memerdekakan suaranya yang dibungkam. Lembar-lembar kegelisahan berbahasa Belanda tersebut ia kirim pada sahabatnya, Estelle “Stella” Zeehandelaar. Berikut terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
“Bila saya menguasai bahasa Belanda, maka masa depan saya terjamin. Lapangan kerja terbuka dan saya seolah menjadi anak manusia yang bebas. Bagaimana juga saya ini seorang Jawa yang tahu seluk-beluk dunia pribumi. Banyak hal hingga kini masih misteri dan tak dipahami orang Eropa, yang malah dapat saya pecahkan dengan beberapa patah kata saja. Tata krama yang ada di dunia kami, bahkan bagi seorang Indolog terbesar pun tak mampu mendalaminya, yang justru dengan mudah diangkat ke permukaan oleh seorang pribumi.”[1]
Pada Stella, Kartini mengungkapkan kepercayaannya bahwa niat para priyayi menguasai bahasa Belanda semata demi akses pengetahuan intelektual Eropa dan kelayakan pekerjaan pribumi di mata kolonial. Perkara lainnya, kecakapan berbahasa Belanda di Hindia-Belanda ditentukan oleh asal kelas sosial penggunanya. Pengguna bahasa Belanda seolah memperlihatkan status masyarakat dan tingkat intelektual yang lebih tinggi.
Urutan berbahasa dari yang terendah: bahasa lokal, Melayu rendah, dan Melayu tinggi.
Menyimak hierarki bahasa tersebut, Kartini menyangsikan kacamata intelektual Eropa bisa cermat membaca isi pikiran inlander: “……. bahkan indolog terbesar pun tak mampu mendalaminya, yang justru dengan mudah diangkat oleh seorang pribumi.” Walaupun pemahaman para indolog itu sama sekali tidak tepat, Kartini dipaksa ikhlas menerimanya hanya karena mereka telah memvalidasinya secara sepihak sebagai kebenaran.
Pada 1990, nyaris seabad setelah terbitnya surat, Benedict Anderson melahirkan analisis yang sedikit-banyak menjawab kegelisahan Kartini: “Uniknya, penyebaran bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sangat mungkin terjadi setelah bahasa Belanda menjadi bahasa kaum intelek. Di titik itulah bahasa Indonesia didesain untuk menerima pemikiran-pemikiran baru, yang kemudian disebarluaskan pada masyarakat di era kolonial.”[2]
Babak Pertama: Melayu Rendah
Berbagai publikasi tentang Melayu rendah (termasuk jurnal akademik) menyebut bahwa bahasa ini dicetuskan pertama kalinya oleh penerbit Balai Pustaka. Benarkah begitu? Pada halaman pertama edisi 15 Oktober 1910, tertulis bahwa bahasa Melayu rendah adalah jenis bahasa yang digunakan Weekblad Sin Po. Penerbit Balai Pustaka baru lahir tujuh tahun setelah terbitnya Sin Po, yakni pada 17 September 1917.
Sejarah Balai Pustaka bermula dari Commissie voor de Volkslectuur atau Komisi Bacaan Rakyat (KBR) pada 1908 di bawah naungan Adviseur voor Inlandsch Zaken (Biro Penasehat Urusan Pribumi). Pada 1917, KBR berganti nama menjadi Balai Pustaka yang kemudian menjadi antitesis para penulis kritis Tionghoa dan surat-surat kabar anti Belanda.[3]
Sejarah penyebutan Melayu rendah sendiri sudah terdengar sejak pertengahan abad ke-19. Bahasa ini secara spesifik digunakan oleh para penulis liar Tionghoa yang menulis dengan gaya realis, lugas, dan kritis. Tulisan-tulisan mereka kemudian diterbitkan oleh surat-surat kabar yang dijuluki pemerintah kolonial sebagai “saudagar kitab yang kurang suci hatinya”.
Artinya, pendapat bahwa bahasa Melayu rendah dimunculkan perdana oleh Balai Pustaka tidaklah benar. Selain memberi inlander ruang untuk menulis, Balai Pustaka justru dibentuk sebagai mesin sensor pemerintah kolonial dalam memilih karya-karya sastra “jinak” yang dianggap tidak berpotensi menyulut api perlawanan terhadap pemerintah kolonial.
Untuk memahami lebih lanjut penulisan dalam bahasa Melayu rendah, simak potongan cerita pendek berikut.
“Ini medja dikasih bandrol kliwat tinggi, risikonja soesa lakoe. Bolelah bri lepas djadi tjepék. Baroe bikin berani orang angkoet ini barang. Biar orang bawa olehan langsoeng ke kantoor atawa roemanja.”
Model kalimat di atas kerap dijumpai dalam kolom cerita pendek Sin Po. Bahasa Melayu yang terkesan janggal tersebut disebut sebagai sebagai “Melayu-Tionghoa” dengan logika tata bahasa Belanda. Gaya bahasa ini mudah ditemukan dalam percakapan masyarakat non-kolonial di kawasan pecinan. Kehidupan masyarakat Tionghoa pasar memang amat dekat dengan isu ekonomi dan politik yang mempengaruhi bahasa dagang. Irisannya erat dengan kebijakan segregasi rasial pemerintah Hindia-Belanda.
Mengamati gaya penulisan Sin Po, akan sangat mudah kita temukan beragam pengaruh bahasa yang tidak hanya didominasi Melayu dan Belanda. Pada percakapan pendek sebelumnya, terdapat sedikitnya lima varian padanan kata.
| Portugis: | medja atau saat ini ditulis meja |
| Hokkian: | tjepék atau tji-pak, saat ini ditulis cepék |
| Prancis: | bandrol saat ini ditulis banderol, padanan Prancis (banderole) yang dibawa Belanda |
| Belanda: | kantoor atau saat ini ditulis kantor |
| risiko atau resiko atau saat ini ditulis risiko. Pengucapan populernya semasa pasca-kemerdekaan adalah “resiko”, bukan “risiko”. Padanan kata ini berasal dari pengaruh Italia (risico) dan Prancis (risque) yang diperkirakan sudah digunakan sejak era VOC (abad ke-17). | |
| Sisanya bahasa Melayu. |
Sebagaimana kita pahami, bahasa selalu dinamis dan perkembangan paling pesat lahir dari praktik dagang yang bertujuan memudahkan atau menyederhanakan transaksi. Istilah-istilah perdagangan yang awalnya terdengar asing kelak menemukan padanan anyar hingga akhirnya menjadi pakem bahasa dagang yang populer. Istilah-istilah populer tersebut lantas disisipkan dalam surat kabar agar pembaca mudah memahami konteks zaman atau mengingat peristiwa kolektif yang dianggap penting dan memiliki nilai jual informasi.
Dalam Sin Po edisi 30 November 1935, Armijn Pane mengulas gaya berbahasa surat kabar ini ketika menulis laporan pertandingan sepakbola.
“Bahasa Melajoe-Tionghoa jang digoenakan pers Melajoe-Tionghoa sangatlah penting. Verslag-verslag voetbal[4] dalam bahasa pers Melajoe-Tionghoa enak dibaca sebab hidoep bahasanja.”
Sebelum membahas lebih jauh, simaklah dua tabel perbandingan bahasa yang digunakan Medan Prijaji dan Sin Po di bawah ini.
| Gaya Penulisan Redaksional di Medan Prijaji, 8 Januari 1910 | Gaya Penulisan Redaksional di Sin Po, 15 Oktober 1910 |
| Pada masoeknja taoen keampat Medan Prijaji dibri laen pakean sebagi adanja sekarang, kerja molai dengan ini taoen s. m. aken dirias dengan gambar-gambar jang ada faedah dan harganja, sedeng perobahan ini mendjadikan sebab penerbit menglwarkan blandja lebih banjak dan kerna itoe poen maka harganja Medan Prijaji ini dinaikkan mendjadi f 4.50 setengah taoen. | Pada redacteur dari ini soerat kabar, orang boleh kirim karangan-karangan, jang tertoelis dengen hoeroef Tionghoa dan dengan hoeroef Latijn bahasa Olanda dan Inggris, jang oleh anggota-anggotanja redactie, nanti disalin ka dalem bahasa Melajoe renda dan dimoeat dalem weekblad[5] ini apabila dirasa ada faedanja. |
| Gaya Penulisan Cerita Pendek di Medan Prijaji, 26 Maret 1910 | Gaya Penulisan Cerita Pendek di Sin Po, 27 Agustus 1920 |
| A: Lo! Adinda dateng. B: Ja, kanda. Saja dateng stort[6] singga pada kanda perloe omong-omong. A: Bagaimana wang stortnja slamet trada sangkoe’an atawa palsoe lagi? B: Dapet pandoea kanda. A: Sjoekoer Alhamdoelillah moedah-moedahan teroes slamet sapandjangnia, soepaja saja tida toeroet soembang soesa. Adinda perloe omong-omong apa? Mari doedoek bertjakep di sini. B: Ja, kanda mari dinda moelai boeka itu omongan. Tidanja djaman sekarang ini bagimana baek kalang-kaboetnja atas angkatan-angkatan pangkat baek ketjil maoe poen besar. A: Ach! Adinda ini ada sadja kalang kaboet bagimana? | “Ja, kaoe poenja pikiran bener djoega ada begitoe.” kata njonja Bong-in sambil memanggoet, ”Prihal Giok-siam maoe dikawinken sama Tjhioe-sing memang djoega akoe koerang satoedioe, tapi sebab perdjandjian soeda dibikin, habis begimana misti dipoengkir?’’ Tjoe-heng jadi sanget girang sebab meliat Atjinja poenja ati betoel–betoel suda tergerak. Maka sembari oendjoek tingka seperti sabenernja hendak menoeloeng, laloe ia berkata lagi: “”Boeat poengkir itoe akoe kira tida ada soesahnja. Apa jang ‘Tji bilang perdjandjian itoelah sebetoelnja soeda dibikin tjoema boeat memaen. Sebab siapakah tida taoe hal pertoenangken anak jang masi dalem peroet, ada adat kebiasaan djelek sekali? |
Tak seperti bahasa di Eropa dan Asia lainnya, bahasa Melayu memiliki keunggulan yaitu kata ganti orang yang tidak berbasis gender. Meski tak berbasis gender, pemerintah kolonial paham bahwa Melayu adalah bahasa berbasis kelas sosial atau status seseorang yang lebih dihormati. Pada tabel gaya penulisan Medan Prijaji, dapat kita lihat status khusus yang ditinggikan secara lahiriah: posisi kanda (laki-laki) lebih tinggi daripada adinda (perempuan).
Hierarki berbahasa sangat disukai pemerintah Hindia-Belanda sebab bahasa yang berjarak adalah senjata ampuh agar mereka leluasa duduk tenang melihat masyarakat menjadi hamba yang bersimpuh penuh tata krama ketika berhadapan dengan sang tuan – seperti halnya istilah “boleh mengkritik asal sopan”. Bahasa Melayu cenderung eufimistik pada mereka yang lebih ditinggikan derajatnya, tetapi sangat tajam bagi sang papa.
Bagaimana dengan Sin Po? Pada tabel di atas, dapat kita temukan kata atji yang bermakna kakak perempuan. Atji di sana tidak menunjukkan nilai khusus seseorang berdasarkan gender atau tinggi-rendah kedudukan secara lahiriah.
Meski contoh cerita pendek di Sin Po dan Medan Prijaji memiliki kesamaan yakni tentang ekonomi, Sin Po terasa lebih membumi, mengajak pembaca dekat dengan realita. Dalam tabel cerita pendek Sin Po, dituliskan bahwa Atji Bing-in dan Tjoe-heng membincangkan persoalan dampak manipulasi hukum, kekerasan ekonomi, dan tabu dalam pernikahan Giok-sam dan Tjhioe-sing yang dikemas layaknya percakapan dan kelakar keseharian.
Armijn Pane berpendapat bahwa bahasa Melayu-Tionghoa atau Melayu rendah dilatari riwayat pendidikan para penulis Tionghoa sendiri. Penulis yang mendapat pendidikan bahasa Inggris akan menggunakan pola tata bahasa Inggris dalam menyusun kalimat-kalimatnya, begitu juga yang berlatar pendidikan bahasa Belanda.[7] Walhasil, penggunaan Melayu-Tionghoa di Sin Po mengesankan kebebasan ekspresi berbahasa. Fleksibilitas berbahasa mendorong Sin Po melahirkan gagasan ruang partisipasi bagi para pembacanya.

Dapat kita lihat bagaimana pryjsvraag (kuis atau pertanyaan berhadiah) menjadi kolom interaktif bagi para pembaca Sin Po. Kolom khusus ini berisi pertanyaan-pertanyaan kritis yang merangsang warga Tionghoa pembaca Sin Po menelaah dan mengkritisi persoalan dan kebijakan hak warga Tionghoa di Hindia-Belanda dalam bentuk artikel panjang.
Pryjsvraag sendiri dirancang untuk menjawab kritik yang beredar di kalangan masyarakat pribumi bahwa kaum Tionghoa tidak peduli apa pun kecuali perkara nasionalisme di negeri Tiongkok dan tidak berpartisipasi dalam perjuangan melawan penjajahan di Hindia-Belanda.
Berikut contoh pryjsvraag yang membahas hak warga Tionghoa mendapatkan pendidikan yang terbit dalam Sin Po edisi 27 Agustus 1920.
- Apa artinja nasionalisme Tionghoa bagi pendoedoek Tionghoa di ini Hindia?
- Bagaimana tersangkoetnja nasionalisme Tionghoa dan onderwijs[8] boeat pendoedoek Tionghoa di ini Hindia?
- Bagaimanakah mesti diartiken onderwijs boeat pendoedoek Tionghoa di ini Hindia?
- Bagaimana onderwijs itu mesti diatoer supaja bisa djadi berhasil?[9]
Jawaban yang dipersilakan redaksi Weekblad (surat kabar mingguan) Sin Po bukan kepalang. Kontributor boleh amat panjang menuliskan artikel. Kontributor diizinkan memuntahkan pemikirannya selama tidak lebih dari sepuluh kolom. Satu kolom dapat memuat 500 hingga 700 kata. Setiap halaman memuat enam baris kolom. Jika dijumlahkan, penulisan kata yang diperbolehkan berada di kisaran 1000 hingga 6000-an kata.
Kontributor bebas mengirim tulisan dalam bahasa apa pun yang mereka kuasai, baik Melayu, Mandarin, ataupun Inggris. Tim redaksi menerjemahkan segala unek-unek itu dalam Melayu rendah. Perbedaan latar berbahasa tak pernah jadi perkara selama belasan tahun. Toh, tim redaksi mencampuradukkan bahasa Melayu, Hokkian, Inggris, Belanda, dan Portugis. Sejak 1910 hingga 1965, gaya penulisan Sin Po yang tidak “tinggi” dan tidak ketat dinilai ringan dibaca dan dipahami masyarakat awam.
Sin Po sendiri berusaha tak melulu melibatkan Tionghoa dalam kerja-kerjanya untuk mendominasi pasar.
Mereka turut menggaet wartawan Melayu seperti Wage Rudolf Soepratman (sejak 1925), mengulas kisah di luar ketionghoaan seperti Saidja dalam Max Havelaar karya Multatuli (27 November 1924), menyalin kisah-kisah klasik populer seluruh dunia (sejak 15 Maret 1926), dan membahas tokoh pergerakan Hindia-Belanda seperti Soekarno (18 November 1933). Sin Po menempatkan diri layaknya toko kelontong mingguan yang mengejar kuantitas pembaca hingga menjadi surat kabar terpopuler yang berjaya lebih dari setengah abad.
Babak Dua: Antara Bisnis dan Propaganda
Di luar strategi bahasa dan pembaruan gagasan demi menggaet pembaca, tak bisa dimungkiri, kekuatan utama Sin Po adalah jejaring pengusaha Tionghoa di sepenjuru Hindia-Belanda. Tak peduli pengusaha kelas teri atau kakap, Sin Po memberi mereka keleluasaan untuk mengiklankan produk dan jasanya. Jika direntangkan, kolom iklan Sin Po mencapai satu tangan penuh. Satu halaman memuat sepuluh hingga belasan iklan teks dan gambar.
Kelihaian taktis dalam sirkulasi ekonomi membuahkan waralaba Sin Po. Akibatnya, Sin Po memiliki banyak cabang redaksi sejak 1921 dengan beragam edisi berbahasa asing, dan sederet ahli alih bahasa sesuai lokasi penyebaran surat kabar mereka. Dari sinilah Sin Po menyebar ke berbagai negara di Eropa dan Asia Timur seperti Belanda, Jepang, Tiongkok, dan negara-negara jajahan Inggris.
Berikut daftar ragam edisi yang diterbitkan Sin Po.
- Sin Po Chineesche Editie (Sin Po edisi Mandarin) pada 12 Februari 1921
- Bin Seng (versi ekonomis harian Sin Po) pada Januari 1922
- Sin Po Oost-Java Editie (Sin Po edisi Jawa Timur yang kelak berubah menjadi Sin Tit Po) pada Juli 1922
- Sin Po Wekelijksche Editie (Sin Po edisi mingguan) pada 7 April 1923
- De Chineesche Revue (jurnal tiga bulanan dalam Bahasa Belanda) pada Januari 1927[10]
Momen distribusi Sin Po paling gemilang di Hindia-Belanda terjadi pada 1935. Tahun itu, Weekblad Sin Po tersebar di Ambon, Kepulauan Aru, Bali, Banda, Bangka, Sumba, Sumbawa, Batu, Biliton, Seram, Ewab, Kei, Flores, Halmahera, Lombok, Nias, Sangi, Riau, Talaud, Ternate, Timor, 322 kota di Jawa, 77 kota di Sumatera, 25 kota di Sulawesi, 17 kota di Kalimantan, dan 8 kota di Irian Jaya.[11] Rumus aji sakti Sin Po yang diakui para pembacanya tak lain adalah penggunaan bahasa yang sederhana dan komunikatif.
Sejalan dengan amatan Armijn Pane, peta sebaran dan efektivitas gaya bahasa Weekblad Sin Po diamini oleh Kepala Volkslektuur[12] dan guru besar bahasa Melayu Fakultas Hukum di Rechtshoogeschool Batavia, Dr. G.W.J. Drewes. Pada 1929, Drewes berpendapat “Pengaruh pers Melayu-Tionghoa salah satunya sangat berjasa dalam pengadopsian kosakata Portugis di bahasa Indonesia.” Menurut Drewes, komunitas Tionghoa bukan hanya saudagar dan perantara lihai di Hindia-Belanda tapi juga saudagar bahasa yang ulung.[13]
Sikap Sin Po dalam kebahasaan dan keberpihakan politiknya bukan isapan jempol belaka. Dua tahun sebelum Kongres Pemuda I, Sin Po telah menyatakan posisinya secara tegas. Dalam edisi Mei 1926, redaksi Sin Po di Hindia-Belanda yang dipimpin Kwee Kek Beng memelopori penulisan kata “Indonesia” menggantikan “Hindia-Belanda” dan kata “priboemi” menggantikan “inlander”.[14]
Keberanian mereka tidak datang tiba-tiba. Seorang peneliti Jerman yang berfokus pada kajian Tionghoa, Mary F. Somers, mencatat pemikirannya sebagai berikut.
“Hanya sedikit peranakan secara aktif terlibat dalam gerakan perlawanan di Hindia-Belanda. Peranakan “totok” menyatakan lebih mendukung Kuomintang, Chung Hua Hui (Persatuan Peranakan Tionghoa) memilih merapat pada pemerintah Hindia-Belanda dengan pertimbangan perlindungan secara ekonomi dan budaya. Meski hanya sebagian kecil peranakan Tionghoa yang mendukung gerakan Anti-Belanda oleh nasionalis Indonesia yang didasari atas perasaan yang sama sebagai bangsa Asia yang menolak segala bentuk penjajahan dan imperialisme, sedikit sekali peranakan yang mendaku sebagai bagian dari pergolakan mengindonesiakan jajahan Hindia-Belanda dan sebagai bangsa Indonesia. Meski demikian, keberpihakan mereka terhadap kaum nasionalis tercatat di edisi Sin Po 10 November 1928, mereka merilis lagu kebangsaan “Indonesia Raja” yang diciptakan oleh wartawan kota edisi Melayu Sin Po yakni Wage Rudolf Soepratman.”[15]
Pada terbitan 10 November 1928, Sin Po tak sekadar merilis lirik dan partitur “Indonesia Raja.” Untuk pertama kalinya dalam sejarah nusantara, Sin Po tidak lagi menyebut bahasa yang mereka gunakan sebagai Melayu rendah. Mereka menyebutnya “bahasa Indonesia”.
Sikap mereka yang berani di zamannya menginspirasi surat-surat kabar lain (yang tak hanya surat kabar Melayu-Tionghoa) mengambil sikap serupa. Perlahan namun pasti, surat-surat kabar nasionalis pun turut berupaya melunturkan segregasi rasial.
Babak Tiga: Melayu Rendah
Apalah arti desain bahasa yang digarisbawahi Benedict Anderson jika masyarakat sendiri tak pernah menggunakannya dalam keseharian mereka? Persis seperti mandeknya inisiatif Badan Bahasa di tengah gempuran media sosial saat ini. Bukankah rugi jika bahasa justru kelewat elite sehingga menjadi kendala penyebaran pengetahuan? Padanan kata seolah datang dari ruang hampa, tak organik, dan tak populer bagi lidah masyarakat – hal penting yang harusnya menjadi tolok ukur pengakuannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Dalam hal ini, Sin Po menjadi bagian penting pendokumentasian bahasa Indonesia dan salah satu penyumbang padanan kata terbanyak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Itu sebabnya tulisan ini hadir sebagai tanda terima kasih pada Sin Po yang telah memberi ruang berbahasa berdasarkan penggunaan sehari-harinya oleh masyarakat. Keleluasaan ini tampak dalam kekayaan warna-warni edisi terbitannya, juga usaha-usaha memberi ruang bagi kelompok minoritas (dalam konteks ini masyarakat Tionghoa) untuk mengekspresikan pemikiran-pemikiran kritis mereka sebebas-bebasnya, apa pun latar bahasanya.

***
Saya imbuh satu kisah pendek sebagai penutup artikel.
“Toean Soepratman bertahon-tahon djadi kita poenja stadsreporter dan ia poen jang toekang bikin verslag dari vergadering-vergadering[16] fihak Indonesia di Gang Kenari dan laen-laen tempat.
Kita masi inget begimana ia satoe hari naek ka loteng Sin Po dengan terbirit-birit dan dengan goembira kasi kita taoe bahoewa ia poenja lagoe Indonesia Raja ditrima baek dan selandjoetnja aken dipandang sebagi lagoe kebangsahan.”[17]
Wage Rudolf Soepratman menyerahkan laporan rinci setiap pertemuan para pemuda nasionalis yang melahirkan Sumpah Pemuda pada redaktur Sin Po, Kwee Kek Beng.
Selama mewartakan jalannya Sumpah Pemuda pada Kek Beng, kaki Soepratman berdegap-degap tak kuasa menahan girang. Ia ingin segera menyudahi laporannya. Ketika Kek Beng merasa laporan Soepratman sudah cukup, ia langsung lari terbirit-birit menuju loteng kantor Sin Po, meluapkan kegembiraan bahwa “Indonesia Raja” aransemennya dinyatakan sebagai lagu nasional di kongres itu.
Hari itu pula Kwee Kek Beng atas nama Sin Po memutuskan mencetak lirik dan partitur “Indonesia Raja” sebanyak 5000 eksemplar, lengkap dengan laporan khusus Wage Rudolf Soepratman mengenai Sumpah Pemuda yang terbit dalam edisi 10 November 1928.
Satu yang pasti, selama kariernya sebagai wartawan Sin Po, Wage Rudolf Soepratman paham bahwa setiap laporannya akan selalu disunting dalam Melayu rendah bahasa Indonesia.
[1] Raden Adjeng Kartini, Door duisternis tot licht: Gedachten over en voor het Javaansche volk. (s-Gravenhage: G.C.T van Dorp & co, 1911), hlm. 15.
[2] Benedict R.O’G Anderson, “The Language of Indonesia Politics” dalam Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia. (Jakarta: The Equinox Publishing Indonesia, 2006), hlm. 136-137.
[3] Maman S. Mahayana, “Akar Melayu: Sistem Sastra & Konflik Ideologi di Indonesia dan Malaysia”(Magelang: IndonesiaTera, 2001), hlm. 5.
[4] Verslag voetbal: laporan sepakbola
[5] Weekblad: surat kabar mingguan
[6] Stort kependekan dari storten: setor
[7] Basuki Soedjatmiko, “Pers Melayu-Tionghoa, Selayang Pandang” dalam Etnis Tionghoa di Awal Kemerdekaan Indonesia: Sorotan Bok Tok Pers Melayu-Tionghoa Desember 1945 – September 1946. (Surabaya: Majalah Mingguan Liberty, 1982), hlm. 39-41.
[8] Onderweijs: pendidikan
[9] Redaktie Sin Po, Prijsvraag, Mingguan Sin Po. (Batavia: Sin Po, 27 Agustus 1920), hlm. 2.
[10] Ravando Lie, “Sejarah Sin Po, Koran Tionghoa yang Menyuarakan Indonesia Merdeka”. (Tirto.id, 7 November 2018)
[11] Idem
[12] Volkslektuur: sekolah rakyat
[13] G.W.J. Drewes, “The effect of western influence on native civilisations in the Malay Archipelago” dalam The Influence of Western Civilization on the Languages of the East Indian Archipelago. (Batavia: Kolff, 1928), hlm. 126-157.
[14] Ravando Lie, idem.
[15] Mary F. Somers, Peranakan Chinese Politics in Indonesia. (New York: Cornell University, 1964), hlm. 5-6.
[16] Stadsreporter: wartawan kota; verslag: laporan; vergadering: pertemuan, rapat
[17] Kwee Kek Beng, Doea Poeloe Lima Tahon Sebagi Wartawan, 1922 – 1947. (Batavia: Kuo, 1948), hlm. 35.
Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggung jawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi serunai.co
Penulis: Galih Nugraha Su
Editor: Sylvie Tanaga
