Turba

Ini adalah pola yang familiar dalam kajian ilmu budaya: dikotomi antara budaya mapan (established culture) dan  budaya vernakular (vernacular culture). Meskipun yang pertama selalu lebih dikenal saat kita membicarakan kebudayaan, yang disebut terakhir bagaimanapun punya andil dan kepentingan dalam rangka keberlangsungan sebuah kebudayaan.

Khususnya dalam musik, pola ini selalu punya kesamaan sepanjang linimasa sejarah kita. Sebagai contoh, di kurun waktu lima tahun belakangan ini musik folk mendapat posisi istimewa. Folk menjadi musik kegemaran banyak orang di kancah indie Indonesia. Apabila seseorang membentuk duo, salah satu personil memainkan gitar atau ukulele, seorang lagi menyanyikan lirik tipikal tentang ‘pulang’ atau ‘hujan’, lalu menambahkan satu atau dua birama dentingan glockenspiel ke dalam aransemen musik minimalis, maka duo ini bisa disebut sebagai musisi folk.

Folk telah muncul dan menjadi budaya mapan. Namun, jika kita melihat kembali ke masa lampau, folk sebenarnya adalah musik vernakular. Berawal dari musik kaum gypsy, folk adalah sebentuk kesakitan bagi kuping para aristokrat anggota keluarga kerajaan Eropa. Seiring berjalannya waktu, dan imbas dari tren musik yang mengubah pola kebudayaan, musik folk malih rupa dari vernakular menjadi budaya mapan. Secara spesifik kita bisa menyebut solois bergitar era 70-an seperti Bob Dylan, Woodie Guthrie, atau versi Indonesia dari keduanya: Iwan Fals.

Perubahan status musik folk dari vernakular ke budaya mapan, serta popularitas folk di kancah indie adalah contoh sempurna untuk membicarakan signifikansi dari musik vernakular dalam kebudayaan kita: bagaimana idiom-idiom vernakular membentuk musik modern yang kita kenal dan dengarkan sekarang.

Noise

Di dalam bukunya Noise Uprising, Michael Denning mendefinisikan musik vernakular sebagai musik yang muncul, berkembang, dan dimainkan di luar tradisi aristokrat. Pada kemunculannya, musik vernakular selalu dilabeli sebagai ‘noise’ atau ‘frekuensi yang tidak diinginkan’ oleh golongan aristokrat. Musik vernakular yang berkembang di luar lingkaran elit aristokrat terdengar sebagai sebuah kebisingan. Lebih jauh, Denning berargumen bahwa revolusi musik vernakular muncul dari suara lingkungan keseharian para kelas pekerja di kepulauan yang terjajah oleh bangsa penjajah.

Setali tiga uang dengan Denning, di dalam bukunya The Rest is Noise, Alex Ross menjabarkan bahwa semua yang berada di luar musik mapan status quo bisa disebut sebagai noise, atau vernakular. Misalnya, Ross menjelaskan bagaimana jazz, sepanjang dialektika pembentukan musikalnya pada 1920an dilabeli sebagai noise oleh patron musik mapan, bahkan oleh pemikir terkenal Mazhab Frankfurt, Theodor Adorno, yang dalam esainya merendahkan jazz sebagai “world-economic resonance in cheap foreign locales that could be imported at will”. Mungkin saat itu tak pernah terlintas dalam benak Adorno bahwa di masa yang akan datang, jazz berpindah dari soundscape kedai minum kelas pekerja ke kafe mewah kelas atas. Jazz bukan lagi musik vernakular, ia sekarang adalah penanda dari kemegahan musik kelas tinggi.

Sampai di sini, sedikit banyak kita sudah dapat melihat signifikansi dari musik vernakular. Senarai tentang bagaimana musik vernakular membentuk musik mapan akan sangat panjang jika kita coba menulis semuanya. Periode ’90an memiliki gerakan seattle sound yang terkenal. Sebelumnya, seattle sound adalah underdog di dalam kancah musik Amerika. Tiba-tiba semua berubah saat Nirvana meledak di pasaran, media lantas dengan semena-mena menahbiskan nama baru: grunge. Musik para pecundang yang berkembang di dinginnya udara Seattle tiba-tiba malih dari vernakular menjadi mapan.

Di musik tradisi Indonesia, gamelan Jawa dapat dipertimbangkan sebagai salah satu ansambel musik yang paling terkenal. Sejarah panjang Jawanisasi oleh rezim orde baru menempatkan gamelan pada posisi istimewa sebagai ‘kebudayaan tinggi nasional’. Gamelan tentu saja adalah produk dari masyarakat mapan aristokrat, diciptakan dan dimainkan di dalam tembok tinggi Keraton—atau secara spesifik kita bisa menyebut Keraton Yogyakarta. Rakyat jelata di luar tembok Keraton tidak dapat memainkan gamelan karena mereka tak mampu membayar harga mahal instrumen berbahan kuningan. Lebih lanjut, mereka tak mampu mengakses pengetahuan musik karawitan: bagaimana cara memainkannya dengan baik dan benar, apa laras yang tepat, bagaimana teknik memainkan imbal (interlocking) antara instrumen bonang barung dan bonang penerus. Pengetahuan tentang Karawitan dikungkung dalam tembok tinggi Keraton.

Hikmahnya, rakyat yang tinggal di sekitar Keraton Yogyakarta menciptakan sendiri jenis gamelan mereka. Menggunakan material yang murah dan terjangkau yang tumbuh di manapun sepanjang kepulauan Nusantara: bambu. Dari kacamata organologi, ilmu yang mempelajari tentang struktur instrumen musik berdasarkan sumber bunyi, cara memproduksi bunyi dan sistem pelarasan, laku ini jenius. Orang-orang dari Banyumas dan sisi selatan pulau Jawa menciptakan angklung dan calung, agar mereka memiliki jenis Karawitan mereka sendiri. Tentu saja, di masanya bentuk musik ini dipandang sebagai ‘low-art’ oleh seniman gamelan mapan di Keraton.

Sekarang, kita bisa mendengarkan instrumen bambu vernakular ini di sekitar kota Yogyakarta. Di sudut lampu lalu lintas, calung dimainkan oleh musisi jalanan. Di dalam pusat perbelanjaan, simbol gaya hidup modern, terkadang kita dapat menemukan timbre familiar bambu dalam perhelatan yang diselenggarakan pengelola mall. Bahkan dalam perhelatan resmi pemerintah, kita dapat menemukan ansambel calung sebagai entertainer. Musik bambu vernakular dari masa lampau kini mengelilingi Yogyakarta, pusat dari musik Karawitan a la aristokrat.

Sementara itu, di dalam ranah industri musik pop. Kita paham benar bagaimana dangdut—perpaduan dari musik Melayu, India, dan rock barat—dilabeli sebagai ‘noise’, atau dalam konteks debat era ’70an dangdut disebut sebagai ‘musik tai anjing’ oleh Benny Soebardja, salah satu rockstar terkenal pada masa itu. Sejak saat itu, sampai sekarang dangdut selalu mendapat label sebagai musik vernakular. Musik rakyat, musik murahan/kampungan.

Lucunya, berkaca dari kajian budaya pop, Ariel Heryanto yang membahas kemunculan Inul Daratista pada 2000an, sekali lagi kita dapat menyimpulkan signifikansi dari musik vernakular. Di saat itu, dangdut mampu mengubah tren dalam industri musik Indonesia. Pada debat era ’70an, serendah apapun dangdut dilabeli sebagai ‘musik tai anjing’, toh Rhoma Irama mampu memaksa rocker Ahmad Albar mendendangkan “Zakia”. Seriuh apapun debat yang melibatkan fatwa haram dari golongan agamis kepada Inul Daratista, ketenaran biduan asal Jawa Timur ini mampu memaksa grup pop Project Pop untuk menggubah lagu bergaya Linkin Park bertajuk “Dangdut is The Music of My Country”.

Snob

Waktu akan membuktikan. Seiring berjalannya waktu, seharusnya signifikansi musik vernakular tampak jelas di depan mata kita sekarang. Tanpa diragukan lagi, musik vernakular telah membentuk musik modern. Ia menemukan ulang genre, tren, dan nada yang kita dengar. Di sisi lain, bicara soal bisnis, industri, dan kepentingan kapitalistik, saat mengenali signifikansi dari musik vernakular, status quo yang telah mapan (artis, label rekaman, media) akan dengan mudah melupakan masa lalu saat mereka dengan semena-mena melabeli vernakular sebagai noise atau harmoni mengganggu yang tak layak dihormati. Mereka akan mencipta ulang vernakular di dalam ranah industri, sehingga mereka bisa menjualnya.

Contoh bagus untuk ini adalah frase ‘om telolet om’ yang memviral. Frase vernakular yang lahir dari celetukan anak-anak di pinggir jalan, berteriak meminta supir bus agar membunyikan klakson bernada telolet. Saat frase dan rekaman tiga-lima detik melodi telolet menjadi viral, para disc jockey (DJ) dari belahan bumi barat yang menaruh perhatian, kemudian me-remix ‘om telolet om’ ke dalam lagu mereka.

Refleksi dari eksistensi musik vernakular ini: snobbery adalah omong-kosong. Terkadang saat kita punya privilege bisa mendengarkan musik yang dilabeli sebagai musik mapan kelas tinggi, kita kemudian akan dengan mudah melakukan aksi snobbery dengan menghakimi musik vernakular sebagai seni rendahan, dangkal, noise, atau ‘tai anjing’.

Tentu saja penghakiman selera ini omong kosong yang memalukan, karena sejarah mencatat dan membuktikan bahwa musik vernakular memiliki posisi yang sama pentingnya dengan musik mapan. Sampai terbukti sebaliknya, penghakiman angkuh kita terhadap musik vernakular adalah sebentuk aksi nonsense seorang snob, dan ini tidak akan membawa kita kemanapun selain debat dangkal.

Sekarang, kita bisa percaya kepada keindahan dan kejujuran musik vernakular. Seperti apa yang Béla Bartók paparkan dalam refleksinya pada 1933: “the urban (established) music frequently sounds stilted, affected, and artificial; the peasant (vernacular) music, on the other hand, gives the impression of being a far more spontaneous and vivid manifestation”. Alangkah baiknya apabila kita kemudian meluangkan waktu untuk turba, turun ke bawah. Mendengarkan dan meresapi bagaimana musik vernakular berkembang.

Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggungjawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi serunai.co


* Versi bahasa Inggris tulisan ini pernah dimuat di The Jakarta Post. Dimuat ulang dengan beberapa pembaruan.

Aris Setyawan

Aris Setyawan

Etnomusikolog dan musikus. Baru saja menerbitkan buku pertamanya "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017. Warning Books/Tan Kinira Books). Bisa dihubungi di surel arisgrungies@gmail.com, instagram setyawanaris, atau twitter @arissetyawan. Bercerita di arissetyawanrock.wordpress.com
Aris Setyawan

Latest posts by Aris Setyawan (see all)