Ada dua alasan utama saya membaca buku Tapeheads: Sejarah Hidup Kaset di Indonesia (2025) karya David Novak ini:
Pertama, sejak Agustus 2024 lalu, saya mulai membeli dan mengoleksi kaset pita secara teratur. Hampir setiap bulan, saya pasti melakukan transaksi barang satu atau lebih kaset pita baru ataupun bekas. Setidaknya, sampai saat ini, jumlahnya hampir menyentuh 100 keping. Jumlah yang tidak banyak, tetapi secara pribadi, saya puas memilikinya. Kiranya, saya sudah bisa menyebut diri sebagai penggila kaset (tapeheads)?
Kedua, secara kebetulan, buku Tapeheads nangkring di rak sebuah kafe di Wates, Kulon Progo ketika saya datang. Awalnya, saya sudah mengetahui ihwal terbitnya jilid itu, tetapi belum sempat membelinya. Sehingga, tatkala melihat keberadaan terbitan itu, dengan spontan, saya mengambil dan membacanya dalam sekali duduk. Saya dengan cepat tenggelam dalam proses membalik-balik halaman.
Sebelumnya, saya telah mengetahui secara sayup-sayup peran kaset pita dalam lanskap sosial-politik di Iran, terutama masa menuju Revolusi Iran 1978. Ketika Ayatollah Khomeini dipaksa eksil di Irak dan Prancis oleh rezim Shah Reza Pahlavi, ia merekam pidato dan khotbahnya di dalam kaset dan menyelundupkannya ke dalam negeri. Melalui medium tersebut, wacana-wacananya dapat didengarkan pengikut-pengikutnya dan menjadi bagian dalam pembentukan revolusi.
Namun, bagaimana dengan di Indonesia?
Sebagai bagian dari generasi Z yang lahir di awal 2000-an, bagi saya masa keemasan kaset pita sudah lewat. Format mendengarkan musik selama masa pertumbuhan saya bisa diurutkan mulai dari cakram padat (compact disc/CD), file sharing melalui USB flashdisk, dan kemudian era digital dengan bermacam varian serta aplikasi yang bermunculan dari unduh (download) hingga streaming. Sehingga, persentuhan saya dengan format kaset, bisa dibilang, adalah sebuah kesengajaan. Upaya diri sendiri untuk mendengarkan lagu dalam format yang belum pernah saya jajal.
Ketika mulai mendengarkan lagu dengan kaset pita setahun yang lalu, saya hampir tidak mengetahui dimensi yang lebih lebar tentang peran maupun sejarah keberadaan kaset selain pernah menjadi format umum pemutar lagu pada dekade tertentu di Indonesia. Karena itu, Tapeheads ini menjadi eksemplar yang membantu merangkai cerita-cerita sporadis yang sering dihamparkan penjaja rilisan fisik saat saya datang ke lapak-lapak mereka. Mudahnya, buku ini melengkapi kisah-kisah yang berserak.
Terbitan setebal 75 halaman tanpa ISBN (International Standard Book Number) khas Elevation Books ini menyajikan lanskap peredaran sejarah kaset pita di Indonesia dengan padat. Buku karya David Novak, seorang Associate Professor di Program Etnomusikologi di Department of Music, 1 USC Santa Barbara, California ini disusun dengan bersandar pada foto-foto yang diambil penulis selama melakukan penelitian lapangan di Indonesia dari 2018-2024. Karena itu, sepanjang halamannya terdapat banyak foto-foto berwarna baik dari masa yang sudah terlewat maupun yang baru. Mencakup kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, dan Surabaya. Serta menghimpun informasi dari wawancara penggila kaset (tapeheads) mulai dari kolektor, pedagang, pelestari, pengarsip, pencatat tidak resmi, produser musik, dan lain sebagainya.
Bergerak dari satu kota ke kota yang lain, pembaca akan mendapati hamparan nama-nama pedagang yang gigih dalam menjaga dan mengabdikan diri dengan kaset pita atau rilisan fisik secara umum. Menghadirkan pengalaman yang nyata, lebih dari sekadar kisah yang hanya dapat ditonton dalam film Galih dan Ratna (2017) besutan sutradara Lucky Kuswandi.
Di Yogyakarta, tepatnya di pusat keramaian Jalan Malioboro yang terkenal ada Priyo Sanyoto yang sudah berjualan kaset sejak 1998. Dengan gugurnya satu persatu toko atau pedagang rilisan fisik di sepanjang Malioboro karena perubahan cara orang mendengarkan musik, Priyo Sanyoto menjadi satu-satunya yang tersisa hari ini dan menepi ke gang samping Pasar Beringharjo. Di Jakarta, area terkenal seperti Blok M menjadi tempat bagi banyak kios pedagang rilisan fisik seperti yang saya jumpai ketika berkunjung pada Februari 2025 lalu. Di ruang bawah tanah aneka format dan genre musik bercampur, memanjakan mata sekaligus seperti menaiki mesin waktu waktu bagi penggila rilisan fisik ketika menelusuri lorong-lorongnya.

Di Bandung terdapat toko DU 68 Musik yang postingannya di media sosial hilir mudik di lini masa akun Instagram saya. Toko yang dimiliki Irham Vikry di Jalan Dipatiukur ini tidak hanya menjual beragam rilisan fisik, tetapi “menjadi ruang sosial dan sarana untuk belajar bagi banyak pemburu kaset dari kalangan mahasiswa di kota ini” (hlm. 41). Di Surabaya, ada Kaset Lalu milik Nyono Sugihartio yang merupakan pecandu kaset. Berawal dari kolektor kemudian bertransformasi menjadi penjual dengan jumlah sekitar 40.000 kaset mengisi rumahnya.
Kehadiran barang fisik seperti kaset pita ini tentunya tidak terlepas dari urusan pembajakan. Selama beberapa dekade, seperti yang ditulis Novak, hampir semua kaset yang beredar di Indonesia adalah bajakan, terutama musik-musik luar negeri (hlm. 20). Situasi itu merajalela hingga tahun 1988 ketika Indonesia mulai mengakui perlindungan hak cipta gegara tekanan dari Bob Geldof yang menjumpai kaset bajakan dari proyek amal Live Aid-nya dijual bebas. Dengan cepat hal ini merobohkan toko-toko musik dan menjadi faktor berkurangnya keragaman musik karena pembajakan telah menjadi jalur tersendiri dalam mengenalkan musik mancanegara.
Namun, faktanya urusan pembajakan kaset di Indonesia telah menjadi sejarah tersendiri di antara para tapeheads. Sepanjang mengunjungi toko musik atau pedagang rilisan fisik, saya kerap menjumpai rak khusus yang dikurasi bukan berdasarkan genre atau musik Indonesia atau barat, tetapi label. Bukan label rekaman, tetapi label bajakan Yess. Label bajakan ini memiliki ciri khas pada kualitas sampulnya yang rapi dan profesional. Dengan tulisan “YESS” besar di punggung kaset dan warna gradasi yang memberikan nilai estetika saat disusun dalam rak, para pedagang yang saya jumpai selalu mengatakan jika kaset dari jenis ini memiliki daya tarik besar bagi para kolektor. Hanya penggila kaset sejati yang mungkin terus memburu kaset jenis ini. Menurut Novak, rilisan Yess–seperti kebanyakan bajakan–telah memberikan warna bagi masuknya musik-musik Barat ke dalam pusaran underground di Indonesia.
Berada di sisi koin yang lain ada label rekaman yang juga dibahas dalam buku ini. Setidaknya ada dua label yang disebut: Lokananta dan Grimloc Records. Untuk yang pertama, Tapeheads membahas sejarah perkembangan Lokananta yang berada di Solo sebagai label rekaman suara resmi negara. Mulai dari memproduksi musik daerah yang disukai Sukarno, sebagai corong kebudayaan Orde Baru melalui Departemen Penerangan yang mengedarkan kasetnya ke penjuru pelosok, kejatuhan karena tidak ada dana pascareformasi, dan kebangkitannya secara perlahan selama dua dekade terakhir yang mengadopsi gaya revitalisasi GLAM (Galeri, Perpustakaan, Arsip, dan Museum). Peran dari Lokananta inilah yang membuat saya beberapa kali menemukan kaset yang berisi rekaman pidato Sukarno di lapak-lapak pedagang rilisan fisik bekas. Peran yang serupa dengan yang terjadi di Iran seperti yang saya sebut sebelumnya.
Untuk yang kedua, Novak menyajikan pengalaman anekdotalnya dengan label yang beroperasi di Bandung itu. Ketika dia datang, Grimloc Records baru saja menerima pengadaan kaset baru dari pabrik. Namun, 200 keping kaset yang ada gulungan pitanya terbalik. Alih-alih mengembalikan ke pabrik, dengan empat orang yang bekerja, mereka memilih membongkar satu persatu kaset dan menatanya ulang dalam beberapa jam. Lebih cepat daripada harus mengirimkan ke pabrik dan menunggu pengiriman balik, menurut mereka. Sebagai orang yang punya pengalaman dengan pita pada kaset, saya bisa membayangkan situasinya. Apalagi jika gulungan tidak sengaja jatuh dan terudar sangat panjang. Butuh kesabaran untuk menggulungnya.
Di halaman lain, pengalaman kolektor kaset pita khusus lagu anak-anak, tukang digitalisasi yang mengayunkan format kaset ke medium digital, dan pelestari serta arsiparis rilisan fisik seperti Irama Nusantara juga turut dibahas. Proporsinya cukup untuk memberikan pemahaman betapa luasnya dimensi yang bisa dijangkau dan betapa panjang cerita yang bisa diutarakan, tetapi tidak teraih sepenuhnya dalam buku ini. Pada akhirnya, siapa pun yang selesai membaca derai-derai ini, terlebih para penggila kaset, akan merasakan oase informasi yang menyegarkan, namun sekaligus mengundang lebih banyak pertanyaan seputar jalinan yang telah terbentuk melalui format musik berupa kotak kecil pita magnetik ini.
Ada dua hal yang mengusik saya ketika menutup buku Tapeheads ini:
Pertama, ada entitas penting, tetapi belum dibahas dalam buku ini. Yakni, komunitas atau jejaring pedagang rilisan fisik. Dalam lembaran-lembaran ini, memang dibahas beberapa pedagang rilisan fisik yang kesohor di kota-kota seperti Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya. Namun, komunitas pedagang sendiri belum dieksplorasi. Padahal, sepanjang satu tahun terakhir saya mengikuti geliat rilisan fisik, komunitas pedagang ini memiliki peran penting dalam menghidupkan dan menjaga kelestarian rilisan fisik. Melalui berbagai perhelatan perayaan rilisan fisik seperti Record Store Day dan Cassette Week. Event-event ini sendiri ke depannya, saya kira juga perlu dijelajahi lebih lanjut: kapan perayaan rilisan fisik pertama di Indonesia? Bagaimana perkembangan dari masa ke masa? dan lain sebagainya.
Kedua, dari sekian kota yang disebut di dalam buku, saya tidak menemukan nama Semarang. Sebagai salah satu kota terbesar di Jawa dan utamanya tempat saya menemukan keasyikan mengoleksi kaset pita, secara personal, dari membuka halaman pertama, saya berharap Semarang mendapatkan paparan. Saya berharap ada nama penggila kaset dari Semarang yang disebut. Meski sampai ujung lembaran terakhir tidak ada, hal itu tentu saja bukan masalah besar. Artinya, siapa pun punya kesempatan menuliskannya di hari-hari depan.
Hal terpenting menurut saya, buku Tapeheads ini telah memberikan cakupan yang memadai—setidaknya mengisi pengetahuan saya yang minim terkait format musik analog—atas bentangan sejarah format musik kaset pita di Indonesia. Saya mungkin tidak akan lagi hanya menganggap kaset sebagai barang antik yang kembali diromantisasi di era digital. Tetapi menyadarinya sebagai medium fisik yang digunakan untuk mentransmisikan dan mengabadikan informasi konten musik.
Judul Buku: Tapeheads: Sejarah Hidup Kaset di Indonesia
Penulis: David Novak
Penerjemah: Satria Nugraha
Penerbit: Elevation Books
Jenis Buku: Non Fiksi/Musik/Sejarah
Jumlah Halaman: 75
Tahun Terbit: 2025
Bahasa: Indonesia
Penulis: Farras Pradana
Editor: Aris Setyawan
