Peringatan pemicu (trigger warning): Artikel ini memuat pembahasan tentang kekerasan fisik eksplisit dalam peristiwa pembantaian massal 1965 di Bali yang mungkin dapat memicu trauma. Mohon bijak sebelum membaca.
“Semua yang tertangkap tidak jadi bulat, lengkap, tuntas, tapi hanya sebagian-sebagian. Bahkan celakanya, tak jelas, itu sebagian besar atau sebagian kecil?”– Putu Wijaya dalam cerita pendek Sejarah, 2016.
Ketika membicarakan soal 1965 di Bali, seperti juga di tempat lain, banyak kepingan peristiwa yang tak lengkap. Itu serupa puzzle penuh misteri yang, seperti diungkapkan Putu Wijaya dalam cerpen Sejarah, mesti disusun. Sampai sekarang, banyak keluarga di Bali yang memilih bungkam, termasuk keluarga saya. Padahal, sebelum peristiwa berdarah 1965 itu terjadi, orang Bali dikenal cakap berbicara dan bahkan kritis terhadap berbagai kebijakan lokal. Namun, setelah peristiwa traumatik tersebut meletus, banyak orang Bali yang memilih bisu.
Sebagai orang Bali, saya tidak mendapatkan informasi yang cukup lengkap tentang apa yang terjadi selama ini. Kakek saya yang berlatar Partai Nasional Indonesia (PNI) mengalami peristiwa berdarah tersebut. Namun, ia sudah lama meninggal dunia sehingga saya tidak sempat menggali cerita darinya. Demikian pula dengan nenek yang saya anggap sebagai narasumber utama dalam narasi keluarga. Ia menyusul kakek dua tahun lalu. Dulu ketika kami sering berkumpul saat upacara Galungan dan Kuningan, begitu banyak yang ingin saya tanyakan pada nenek, termasuk soal yang belakangan membuat saya mencari-cari dan menelusuri banyak hal terkait apa yang terjadi pada akhir 1965 di Bali. Apakah keluarga saya menjadi korban atau justru pelaku pembantaian pada masa itu? Pertanyaan itu tidak sempat saya sampaikan.
Informasi samar-samar kemudian saya dapatkan dari paman yang ketika peristiwa itu terjadi masih berusia sekitar 10 tahun. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri segala peristiwa tersebut. Masa kecil yang traumatis itu sulit ia lupakan hingga hari ini.
“Jeg gawat gumi e (pokoknya situasinya gawat sekali), saling bunuh, sing ade hukum ne berlaku (nggak ada hukum yang berlaku). Jeg saling bunuh, PKI bunuh-bunuh e ajak anak e, mare kalah jeg bunuh e nak e. (Pokoknya semua saling bunuh, orang PKI semua dibunuh, setelah PKI kalah—mereka dibunuh),” tutur paman saya.
Suasana hening pun pecah saat mendengar pengakuan paman, seperti diungkapkan Putu Wijaya dalam cerpen Sejarah: “Lalu hari yang berdarah itu tiba. Siang jadi malam. Malam jadi siang. Yang dulu ketakutan berbalik jadi menakutkan.”
Kengerian yang diceritakan oleh paman tersebut terkonfirmasi dari temuan John Roosa dalam Riwayat Terkubur. Menurut Roosa, Bali menjadi salah satu daerah yang “unik” dan “istimewa” sebab komando dan bantuan dari pusat sangat besar, yang kemudian membuat pembunuhan di Bali menjadi salah satu yang paling brutal dan keji.
Dari paparan Roosa, saya baru tahu bahwa jalanan di sepanjang Denpasar dan Badung yang saya lewati selama ini berkaitan erat dengan peristiwa berdarah 1965. Tidak hanya itu, yang cukup mengejutkan bagi saya adalah Desa Kapal yang lokasinya hanya empat kilo meter ke arah barat dari rumah saya merupakan lokasi pembunuhan paling keji terhadap tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI).
“Operasi” Tanah Natah Penuh Darah
Ingatan masa kecil paman saya tentang peristiwa berdarah 1965 itu masih jelas. Salah satu yang masih cukup kuat diingatnya adalah pembunuhan yang dilakukan kepada Nang Martiratau Pak Martir. Saat itu, ia melihat mayat Nang Martir di jalan raya depan rumah tergeletak begitu saja.
“Pas kecil ya Au tahu, karena liat mayat Nang Martir (Pak Martir) secara langsung. Di Darmasaba sini enggak tahu, tapi di desa adat kita di Tegal liu nak mati (banyak orang meninggal). Sekitar 5 orang yang Au tahu, Nang Martir itu PKI, tapi ada juga PNI yang dibunuh. Siapa pun yang kesel dengan salah satu orang akan diincar, dicarikan grup, biasanya ada 10 orang yang bertugas untuk (mem)bunuh,” tutur paman.
Peristiwa yang dialami oleh Nang Martir juga dialami oleh I Gede Puger yang dikenal sebagai donatur PKI, ia dieksekusi mati di kuburan Desa Kapal. Roosa menceritakan bagaimana Puger dibunuh dengan tidak wajar karena begitu sadis: Tubuhnya ditusuk hingga isi perutnya memburai, kepalanya ditembak, dan setelah tewas tangannya dimutilasi.
Puger punya pengaruh bisnis yang besar kala itu. Ia dikenal dekat dengan Presiden Soekarno. Roosa mengungkap bahwa Puger punya hubungan kekerabatan sekaligus pertemanan dengan sosok yang memiliki andil besar dalam pembunuhan itu. Ia adalah Pugeg, tokoh PNI setempat. Motif utama Pugeg menghabisi Puger diduga adalah karena ia menganggap Puger sebagai lawan politik.
“Semua itu cuma sentimen pribadi. Hansip saja yang berjaga saat itu, tiap hari hanya ada suara kulkul bulus, tung tung bunyinya, kulkul bulus artine gawat gumine (Kulkul Bulus artinya pertanda bahwa situasi sedang gawat), ade nak mencurigakan (ada orang yang mencurigakan),” kata paman soal kenapa orang-orang PKI dibunuh.
Padahal, orang-orang di sekitar rumah saya dulu adalah orang yang sangat akrab dengan anggota PKI walaupun mereka adalah anggota PNI. Kakek saya bahkan berupaya menyelamatkan beberapa keluarga yang menjadi anggota PKI ketika peristiwa nahas itu terjadi.
“Dajan umah (di utara rumah) Pak Patra, Bli Dedeg (Ketua PKI) ibunya masih bersaudara dengan kita. Guru (Kakek) nggak ikut, dia hanya melindungi orang, orang PKI berlindung di rumah kita juga, bahkan di rumah saudaranya yang PNI. Malam-malam di sini sering kali ramai, sembunyi. Dulu ya biasa saja, namanya partai, semua bersaing cari massa, karena partai kan?” ujar paman.
Saudara Hilang Tak Kembali atau Mati Dibunuh
Situasi saat itu serba kacau dan banyak yang sulit dimengerti oleh paman saya. Bahkan, saudara kami sendiri menjadi salah satu korbannya. “Saudara kita, Bli De Rai diculik, dibunuh di tempat lain, barangkali enggak tega membunuh di sini. Saat itu ada istilahnya Tameng, mereka yang menentukan siapa yang harus dibunuh. Nggak perlu ada tanggung jawab apa pun, nggak ada hukum,” tambah paman.
Selain itu, menurut paman, komando pembunuhan tidak pernah jelas datang dari mana. “Entah siapa mereka, siapa yang mengirim mereka, nggak ada yang tahu. Tapi dua orang (terduga PKI) dari desa lain itu langsung dibunuh, di desa kita,” ungkapnya.
Ketika malam-malam mencekam itu berlangsung, ada istilah “jatah” saat ada yang orang yang terafiliasi PKI akan dibunuh di desa kami. Jelasnya jatah kiriman untuk dibunuh. Adapun yang menjadi salah satu eksekutor lapangan untuk membunuh orang-orang PKI di Bali waktu itu adalah Tameng, salah satu underbouw atau organisasi sayap PNI.
Selain paman, saya juga mendapat tambahan cerita dari tante. Masa-masa perburuan tersebut menurut tante membuat banyak orang di Bali ketakutan. Nyaris semua tempat menjadi lokasi pembantaian. Mulai di Sema Cenik (kuburan desa) hingga di jalanan. Seluruh aktivitas itu dilakukan di malam hari sehingga membuat situasi semakin mencekam dan gawat.
“Enggak ada yang berani keluar. Tembok di Jeroan (Rumah Saudara) juga ada yang berjaga, ada orang yang naik ke sana untuk mengawasi keadaan. Kalau di rumah biasanya aman saja. Enggak ada orang yang lewat, jalan enggak di aspal, menuju siang mayat diangkut dibawa ke rumah, enggak ada yang berani,” ungkap tante.
Setra atau kuburan di Bali yang lokasinya ada di samping rumah saya turut menjadi saksi bisu pembunuhan keji terhadap orang-orang yang dituduh PKI. Di Desa Kapal, setra dijadikan panggung pertunjukan pembunuhan para elite atau tokoh penting PKI di Bali yang disaksikan elite militer khususnya dari kesatuan angkatan darat dan PNI Bali.
Lokasi yang kini populer seperti beach club Ku De Ta di Pantai Seminyak juga menjadi salah satu lokasi berdarah. Di lokasi itu banyak ditemukan tulang belulang korban pembantaian berdarah 1965. Sebagaimana Vincent Bevins tuliskan dalam Metode Jakarta, pantai pasir putih tersebut menjadi saksi bisu korban-korban yang tak berdaya dan menjadi tulang-belulang. Korban yang berhasil diidentifikasi diurus keluarganya, sementara para korban anonim dibuatkan ritual sebagaimana diceritakan oleh Wayan Badra, salah satu keluarga penyintas ketika mengingat apa yang ayahnya lakukan.
Hantu-hantu Masa Kecil 1965
Setelah masa-masa berdarah dan malam-malam penuh trauma itu, keluarga PKI maupun tertuduh PKI di Bali harus menanggung stigma sosial dan politik yang diganjar oleh pemerintah. Anak-anak PKI dan keturunannya tidak diberikan surat berkelakuan baik. Menurut Paman, ada perintah soal itu.
“Dianggap anak pengkhianat, padahal mereka ya enggak salah. Dulu ada kasus anak PKI ingin mencalonkan diri sebagai Perbekel (Kepala Desa), tapi enggak diberikan surat berkelakuan baik sama desa. Ada juga beberapa rumah yang dibakar, rumah orang Chinese, rumah para tokoh (PKI), puluhan orang yang dibunuh di sini, tepatnya ya enggak tahu berapa,” cerita paman.
Tidak hanya itu, pertanyaan demi pertanyaan bergelantungan di benak para keluarga yang lahir setelah peristiwa nahas tersebut. Selain saya, tante saya juga punya pertanyaan yang sama.
“Soalnya ada saudara yang meninggal pada tahun itu, Gestapu, terus katanya meninggal karena PKI. Itu cerita lho ya, nggak tahu kebenarannya kayak gimana, waktu itu orang-orang enggak tahu mana yang benar, mana yang salah dan suasana katanya serem. Namanya Bli De Rai,” kata tante.
Menurut tante, sosok Bli De Rai selalu datang saat ia dan kakek memainkan jelangkung. Ritual memanggil roh seperti ini adalah hal yang cukup biasa di rumah kami. Kakek terkenal biasa memainkan jelangkung untuk pengobatan atau sekadar menanyakan sesuatu kepada arwah keluarga yang sudah meninggal lebih dulu.
“Nah dulu kan, ngidupin jelangkung, yang datang itu Bli De Rai, siapa itu Bli De Rai? Bu Tri enggak tahu. Yang datang tu ininya kita, Guru Gede (kakaknya Kakek), Au Man bisa megangnya, nanti nulis dah dia jelangkungnya.” Ujar tante.
Melalui permainan jelangkung tersebut, tante kemudian tahu apa yang terjadi dengan salah satu keluarganya yang bernama Bli De Rai, yang selama ini nyaris hilang sejarahnya.
“Nini (Nenek) ngasih tahu, Bli De Rai itu dibilang PKI. Saat Gestapu, mayatnya enggak ditemukan, meninggalnya di desa lain. Tahunya dari data orang yang meninggal di sana, pokoknya hilang saja, karena zaman itu kan amburadul,” ungkap tante.
Selain itu, pada masa itu ia juga dianggap sebagai bagian dari keluarga PKI yang mengalami stigma sosial. Banyak orang yang pada waktu itu menganggap anggota PKI jelek dan layak dihabisi. Soal itu, tante bilang, “Keluarga kita bukan keluarga pembunuh. Suasananya seram, enggak tahu siapa yang salah.”
Masa-masa tersebut sudah berakhir sekian tahun, tapi trauma keluarga saya dan juga keluarga lain juga belum berakhir. Ketika bermain jelangkung, Bli De Rai selalu datang bersama Guru Gede. Keduanya sama-sama meninggal dunia secara tidak wajar. Guru Gede mati karena hilang di Selat Lombok dan tak ada kabar lagi, sementara Bli De Rai mati karena diculik dan dibunuh lantaran menjadi anggota dan simpatisan PKI.
Bila rasa penasaran tante hadir karena “hantu-hantu” masa kecil yang datang saat ia memainkan jelangkung, maka hari ini rasa penasaran saya muncul karena “hantu-hantu” masa kecil itu masih saja dirawat sebagai narasi bahaya laten komunisme. Siapa yang terafiliasi akan dicap PKI, dan menjadi PKI seolah-olah menjadi pantas mati dan dihabisi.
Desa Darmasaba, sebuah desa kecil di Bali, menjadi saksi pembantaian PKI yang menyisakan trauma antar-generasi. Barangkali tidak hanya paman dan tante yang merasakan kebengisan jaman itu, saya yang baru saja mendengar pengakuan mereka juga turut merasakan luka itu. Ada kehilangan yang tidak dapat diganti. Ada bekas luka yang terus hinggap sampai kapanpun. Mungkin keluarga kami tidak mampu menemukan saudara kami yang dihilangkan, mungkin pertemuan terhadapnya sudah cukup melalui media spiritual. Namun, sama halnya dengan pertanyaan Putu Wijaya dalam cerita pendek Sejarah, saya mau semua kisah dari korban peristiwa 1965 tertangkap bulat, lengkap, tuntas dan tidak diceritakan hanya sebagian saja oleh negara. Dalam hal ini negara punya andil dalam memberikan keadilan, walau hanya sekali saja, pada keluarga korban peristiwa 1965.
Penulis : Si Luh Ayu Pawitri
Editor: Idha Saraswati
