Genjer-Genjer dan Beban Sejarah yang Menggelayutinya

Karanganyar, Jawa Tengah, circa 2009. Saya ingat saat itu saya masih suka mendengarkan radio, dan salah satu radio yang kerap saya dengarkan adalah Solo Radio, sebuah radio lokal yang saya pilih karena beberapa program yang mereka siarkan berbau “ke-indie-indie-an”, terima kasih kepada salah satu produsernya yang berwawasan luas.

Di tahun 2009 itulah pada suatu siang saya tiba-tiba terkaget-kaget mendapat kabar bahwa Solo Radio disatroni alias digeruduk massa yang menyebut diri mereka Laskar Hizbullah. Alasan para anggota laskar menyatroni studio Solo Radio di pusat kota Solo: beberapa jam sebelumnya radio ini memutar lagu “Genjer-Genjer” di siarannya.

Laskar ini menuntut Solo Radio meminta maaf karena telah memutar “Genjer-Genjer”, mereka beralasan lagu itu adalah “lagunya PKI” dan harus dilarang. Pada akhirnya saya ingat Solo Radio melontarkan ucapan maaf, dan massa kemudian membubarkan diri.

Barangkali, bisa dibilang lagu ini adalah salah satu lagu yang memiliki beban sejarah yang paling besar di nasion bernama Indonesia. Sebuah lagu yang terinspirasi dari lagu rakyat Banyuwangi yang sebenarnya menceritakan penderitaan kaum papa di zaman penjajahan Jepang. Namun, selalu dilekatkan dengan PKI. Partai yang namanya selalu digaungkan sebagai “partai tak ber-Tuhan yang hanya layak dilenyapkan.”

“Genjer-Genjer”, PKI, dan komunisme, selalu digaungkan sebagai hantu masa lalu yang akan bangkit dan merebut tampuk kekuasaan. Saya heran. Sejak kapan hantu ini dikabarkan bangkit kembali, eh kok nggak bangkit-bangkit? Kapan nih merebut kuasa di Indonesia?

“Genjer-Genjer” memang memiliki sejarah yang panjang. Mulanya, lagu ini merupakan buah akal budi Muhammad Arief, seorang seniman tradisional using Banyuwangi. Arief menciptakan lagu ini pada 1942 untuk menggambarkan betapa miskin dan nahas nasib penduduk Banyuwangi di tengah zaman pendudukan Jepang.

Saking miskinnya, para penduduk sampai harus mengkonsumsi daun genjer (limnocharis flava). Tanaman ini kerap tumbuh di persawahan dan sebelumnya dianggap sebagai hama dan biasa dipakai untuk pakan ternak. Kesulitan pangan akibat penjajahan Jepang memaksa penduduk untuk mengkonsumsi tanaman ini.

“Genjer-Genjer” Menjadi terkenal dan masyhur setelah dibawakan ulang oleh Bing Slamet dan Lilis Suryani pada 1962. Lagu ini kemudian banyak dimainkan di acara kenegaraan karena dianggap sevisi dengan gagasan politik Nasakom (NASionalisme, Agama, dan KOMunisme) yang digaungkan presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu masih bertaji juga kemudian menggunakan “Genjer-Genjer” sebagai lagu kampanye. Sejak saat itulah stempel “Genjer-Genjer” sebagai “lagu PKI” melekat. Lagu tanpa dosa yang mulanya adalah lagu tradisional bersalut kritik sosial tiba-tiba malih rupa menjadi lagu berideologi tertentu.

Bencana itu datang pada 1965. Setelah peristiwa 30 September 1965 meledak, dan PKI, Komunisme, dan semua hal berbau kiri dilarang karena dianggap subversif, “Genjer-Genjer” pun mau tak mau ikut kena tulah. Beberapa media pro Soeharto dan dari kalangan militer seperti Berita Yudha, Angkatan Bersendjata, dan Pantjasila menurunkan berita bohong bahwa lagu “Genjer-Genjer” dinyanyikan oleh para anggota Gerwani—organisasi perempuan yang berafiliasi dengan PKI—di kala mereka menyiksa para jenderal di Lubang Buaya.

And the rest is history. Sejak saat itu setali tiga uang dengan pembicaraan tentang PKI, komunisme, atau marxisme, lagu “Genjer-Genjer” menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.

Bahkan pascareformasi sekalipun “Genjer-Genjer” seolah masih menjadi lagu yang tabu untuk dibicarakan dan didengarkan. Kisah penggerudukan Solo Radio pada 2009 silam adalah salah satu buktinya. Namun, pascareformasi setidaknya “Genjer-Genjer” masih coba dihidupkan kembali oleh beberapa musisi. Juga oleh sineas perfilman. Misalnya, “Genjer-Genjer” sempat berkumandang di salah satu scene di film Gie (2005) karya sutradara Riri Riza. Di film biopik sosok intelektual Soe Hok Gie ini, adegan itu menampakkan simpatisan PKI yang berparade di jalan, lengkap dengan atribut PKI seperti bendera palu-arit. Di situlah lagu “Genjer-Genjer” muncul sebagai musik latar.

Salah satu musisi yang menghidupkan lagi “Genjer-Genjer” adalah Dengue Fever. Band beranggotakan para Cambodian-American ini sempat meng-cover “Genjer-Genjer”. Aransemen mereka sangat apik, dengan lirik yang aslinya berbahasa Banyuwangi-an namun kemudian diubah menjadi bahasa Cambodia.

Cover Version lainnya yang tak kalah apik dibawakan oleh Filastine, musisi asal California, Amerika Serikat, yang berkolaborasi dengan penyanyi asal Jawa Timur, Nova Ruth. Aransemen “Genjer-Genjer” versi mereka berasa lebih modern dengan bau-bau musik elektronik dan break beat yang sungguh indah.

Di dalam filmnya The Pervert’s Guide to Ideology, filsuf barat—yang konon katanya paling berbahaya di era kiwari ini—Slavoj Žižek berkolaborasi dengan filmmaker Sophie Fiennes. Di satu scene di film itu Žižek menjelaskan sebuah konsep yang disebut sebagai universal adaptability (adaptasi universal).

Sederhananya, universal adaptability dapat menjelaskan kenapa sebuah karya (musik) bisa berubah makna sesuai dengan kebutuhan pihak yang menggunakan karya (musik) tersebut. Sebagai contoh Žižek menggunakan lagu simfoni kesembilan Beethoven untuk menjelaskan bagaimana universal adaptability bekerja.

Simfoni kesembilan, atau yang lebih dikenal sebagai “Ode to Joy” digubah oleh Beethoven, seseorang yang sangat benci dengan otoritas, terutama otoritas imperialis (khususnya Napoleon).

Namun, menurut Žižek, seiring berjalannya waktu, “Ode to Joy” digunakan secara suka-suka oleh banyak pihak. Penggunaan lagu ini yang terkenal misalnya oleh Nazi yang menetapkan “Ode to Joy” sebagai lagu kebangsaan, serta oleh Uni Soviet sebagai lagu komunis. Di China selama Revolusi Kebudayaan, ketika hampir semua musik Barat lainnya dilarang, “Ode to Joy diperbolehkan dimainkan. Kemudian di Apartheid ekstrim tepat di Rhodesia Selatan. “Di ujung lain yang berlawanan,” kata Žižek, Simfoni Kesembilan adalah lagu favorit pemimpin gerakan ultra-kiri Shining Path, Abimael Guzman, dan pada tahun 1972, “Ode to Joy” menjadi “Lagu Kebangsaan Eropa” tidak resmi (sekarang Uni Eropa).

Universal adaptability alias adaptasi universal bisa juga kita gunakan untuk menjelaskan sejarah panjang “Genjer-Genjer”. Dari mulanya intensi Muhammad Arief sebagai komponis lagu ini yang bermaksud menggambarkan kisah nelangsa para penduduk di tengah penjajahan Jepang, “Genjer-Genjer” kemudian diadaptasi oleh PKI untuk menjadi lagu kampanye mereka.

Walaupun Muhammad Arief tercatat sebagai anggota Lekra, underbow PKI yang fokus di perkara kebudayaan, Namun, menurut saya tujuan awal Arief menciptakan “Genjer-Genjer” ya bukan untuk menjadi lagu kampanye PKI. Tujuannya ya seperti saya jelaskan di atas: untuk menyuarakan derita kaum miskin. Jika kemudian PKI menggunakannya sebagai lagu kampanye, ya itulah universal adaptability tadi.

Universal adaptability juga dapat menjelaskan kemudian kenapa rezim Orde Baru melarang benar eksistensi “Genjer-Genjer”. Lagu ini tentu dianggap subversif karena sempat menjadi “lagunya PKI”, maka lagu ini harus dilarang biar tidak meracuni pikiran warga Indonesia dan menjadi penghalang agenda “pembangunanisme” Orde Baru yang sangat anti pada segala hal berbau kiri.

Ketika “Genjer-Genjer” kemudian muncul di film Gie, dan dibawakan ulang oleh Dengue Fever, Filastine dan Nova Ruth, universal adaptability masih terjadi. Intensi mereka jelas, mereka ingin membuka sejarah, menunjukkan pada khalayak bahwa lagu yang dilarang di rezim Cendana ini harus dilepaskan dari belenggu ideologis yang melekat. Maksudnya, kita harus berani melawan narasi Orde Baru yang mengecap lagu ini sebagai lagu komunis terlarang, dan menikmatinya sebagai sebuah musik, dan mengenangnya sebagai lagu perjuangan tentang bagaimana sebuah Nasion bernama Indonesia pernah dijajah oleh bangsa lain, dan berjuang keras untuk merdeka.

Sebenarnya saya tidak mau terlalu banyak membahas mengenai PKI di tulisan ini. Namun, kebetulan pada 23 Mei 2022 PKI merayakan ulang tahunnya yang ke-102. Enggak cukup rasanya membahas “Genjer-Genjer” dan paranoia negara +62 pada hantu merah dalam tulisan singkat ini. Namun, yang jelas menurut hemat saya sudah saatnya “Genjer-Genjer” dilepaskan dari beban sejarah yang menggelayutinya. Di bulan di mana partai politik terlarang ini merayakan hari jadi ke-102, mari menghayati “Genjer-Genjer”, lagu gubahan Muhammad Arief ini sebagai sebuah karya yang menggambarkan sebuah zaman. Zaman ketika Nasion bernama Indonesia ini masih meraba-raba arah dan tujuan.

Mari mendengarkan “Genjer-Genjer” sebagai lagu yang mengajak kita melakukan refleksi bahwa dalam bentuk apapun, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggung jawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi serunai.co

Aris Setyawan

Aris Setyawan

Etnomusikolog dan musikus. Telah menerbitkan buku "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017), "Wonderland: Memoar Dari Selatan Yogyakarta" (2020), dan "Aubade: Kumpulan Tulisan Musik" (2021). Bisa dihubungi di surel arissetyawan@tutanota.com, instagram setyawanaris, atau twitter @arissetyawan. Bercerita di arissetyawan.net
Aris Setyawan

Latest posts by Aris Setyawan (see all)

No Comments

Leave a Comment