Kurun: Musik dan Politik Otentik

Pengantar: tentang politik

Politik. Kata yang belakangan terdengar bengis, kotor, jahat dan menjijikkan. Kenapa bisa demikian? Karena di era kontemporer, politik dimaknai sebatas sebagai sebuah perkara kekuasaan: ada yang menguasai, ada yang dikuasai. Praktik politik ini makin terdengar menjijikkan karena maknanya yang makin tereduksi menjadi sebatas semacam tonil yang diulang tahun demi tahun: warga negara hanya punya kuasa untuk memilih tiap beberapa tahun sekali, berbaris dengan rapi ke bilik pencoblosan suara. Setelahnya mereka dikuasai oleh yang terpilih, sekadar menjadi penonton yang mengamati polah-tingkah para politikus yang terpilih.

Negara sendiri menjadi sebuah entitas politik yang diperbolehkan menekan dan merepresi warganya dengan berbagai cara seperti peraturan perundang-undangan dan aturan birokrasi lainnya, dalam rangka menegakkan dominasi negara atas ruang publik.

Relevansi politik yang kotor ini di Indonesia sudah terbaca jelas sejak nasion ini berdiri. Namun, yang paling kasat mata dan dapat dijadikan contoh adalah bagaimana politik menjadi panglima di era Orde Baru. Bahwa kekuasaan mampu bercokol kurang lebih 30 tahun hanya berarti satu hal: sang despot penguasa (baca: Soeharto) sungguh sakti mandraguna dan mampu mencengkeram kuat takhta kekuasaan, serta menepis setiap upaya pencerabutan kuasa dari tangannya. Rezim ini dengan segala cara juga melakukan aksi cuci otak massal sehingga warga negara terdiam dalam mimpi utopis hidup nan gemah ripah loh jinawi.

Ironisnya, setelah Soeharto lengser keprabon dan dinasti Orde Baru runtuh, keadaan politik Indonesia tak juga membaik. Reformasi yang digadang-gadang mampu mengubah keadaan rupanya tak berkutik menghadapi orbais-orbais yang masih bercokol di tampuk kekuasaan. Ngerinya lagi, mereka bercokol sampai sekarang, penghujung tahun 2018.

Jelang pemilihan presiden 2019, praktik politik terdengar makin menjijikkan. Dua kubu capres dan para pendukungnya saling beradu, mencoba meraih simpati konstituen. Dan cara-cara yang digunakan untuk meraih simpati ini tidak selamanya suci hama. Segala tipu daya, hoax, adu argumen tanpa substansi, dan praktik kotor lainnya hadir mewarnai panggung politik Indonesia.

Meminjam lirik lagu Iwan Fals, “dunia politik, dunia pesta pora para binatang”, lalu muncul sebuah pertanyaan: apakah tidak ada politik yang bersih dan tidak menjijikkan?

Seharusnya ada. Filsuf Hannah Arendt memaparkan sebuah gagasan mengenai politik otentik. Melacak sejarah namanya yang muncul dari masa lampau Yunani, secara harfiah politik berasal dari kata polis yang berarti negara atau kota. Polis adalah tempat di mana manusia berkumpul untuk urusan publik. Maka, politik seharusnya adalah perkara publik yang harus dipisahkan dari perkara privat. Sejak kemunculannya politik tidak berbicara tentang aneksasi dan kooptasi (kekuasaan). Alih-alih, dalam kacamata Arendt, politik adalah upaya pengaturan ruang publik oleh manusia yang telah tuntas dalam ranah privat baik dalam segi ekonomi dan pemenuhan privat lainnya seperti pengaturan keluarga.

Arendt menekankan pemisahan yang publik dan yang privat ini adalah sesuatu yang mutlak dalam politik. Apabila keduanya bercampur, politik akan menjadi ajang unjuk kekuasaan demi kepentingan segelintir orang dan menyuburkan oligarki, persis seperti digambarkan di awal tulisan ini.

Contoh dari bahayanya percampuran yang privat dan yang publik ini dapat dilihat dari bagaimana Orde Baru mengatur warga negaranya dengan berbagai aturan: wilayah privat seperti reproduksi diatur dengan aturan Keluarga Berencana dan BKKBN, perkara ideologi (seperti komunisme) diharamkan dan dimusnahkan secara literal di mana ratusan ribu hingga jutaan orang dibunuh pada 1965, privatisasi berbagai sektor ekonomi oleh korporasi asing, Soeharto dan kroninya juga memanfaatkan kekuasaan untuk mengumpulkan kekayaan pribadi.

Contoh lain, di masa sekarang, perda syariah yang belakangan ramai dibicarakan adalah upaya kuasa mengatur ihwal pribadi warga negara. Atau bagaimana aneksasi demi aneksasi terjadi atas nama kepentingan publik: perampasan lahan di Temon, Kulon Progo untuk pembangunan bandara, Tumpang Pitu, Karst Kendeng, reklamasi Teluk Benoa, dan masih banyak lagi kasus lainnya. Jangan lupakan juga bagaimana kuasa berselingkuh dengan korporasi dan merebut hajat hidup orang banyak.

Kurun: musik dan politik otentik

Sila berkenalan dengan Kota & Ingatan, band rock asal Yogyakarta yang baru saja merilis album penuh mereka bertajuk Kurun (2018). Sejak kelahirannya pada 2016 silam, band ini sudah secara tegas menunjukkan sikap politik mereka: membela kaum yang tertindas oleh kuasa. Ini ditunjukkan dengan hadirnya mereka di panggung-panggung pertunjukan yang bersolidaritas dan menyuarakan hak hidup warga negara di akar rumput.

Misalnya, mereka tampil di panggung ulang tahun Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP-KP), secara tidak langsung ini adalah cara mereka berkontribusi, menolak pertambangan pasir besi yang merebut lahan hidup warga Kulon Progo. Pada penampilan mereka di panggung Art Jog 2016 silam, mereka dengan gagah berani menolak hadirnya Freeport sebagai sponsor perhelatan seni rupa tersebut. Freeport dituding sebagai perusahaan pertambangan yang mengeksploitasi hajat hidup warga asli Papua, serta merusak lingkungan.

Sikap politik tersebut juga dihadirkan dalam musik yang mereka bawakan. Sejak awal, Kota & Ingatan memaknai musik mereka sebagai naskah teater. Musik mereka adalah catatan, yang berfungsi mencatat kejadian-kejadian lalu melaporkannya dalam wujud musikal (aransemen musik) dan teks (lirik lagu).

Yang menarik adalah, mereka tanpa tedeng aling-aling menuding dan menyebut langsung ketidakadilan atau pihak pelakunya dalam pertunjukan atau postingan mereka di blog dan instagram. Namun, tidak demikian dengan musik. Mereka tidak menghadirkan musik yang to the point tunjuk sana-sini. Mereka menghadirkan musik dan lirik yang subtil. Jika diibaratkan, musik mereka bak naskah teater: ada dramatisasi, makna tidak secara jelas hadir, makna itu terselip secara lembut.

Kurun, album perdana Kota & Ingatan masih menggunakan formula yang sama. Sepuluh lagu dalam album berdurasi 46 menit 39 detik ini mereka perlakukan sebagai naskah teater dan catatan. Musik mereka ibarat bawang merah, berlapis-lapis, semakin dikupas semakin muncul pedih yang barangkali bisa membikin beberapa orang menangis. Karena di dalam musik mereka, tersirat kegetiran-kegetiran hidup manusia-manusia malang yang menjadi korban politik kotor.

Jika dikaitkan dengan pengantar tulisan ini, Kurun, sebagaimana artinya sebagai peredaran masa, menjadi istimewa karena di album yang kental nuansa guitar driven ini termaktub upaya menyibak tabir yang menutupi politik kotor yang selama ini terjadi di Indonesia, serta berusaha menawarkan utopia tentang politik yang otentik.

Kurun dibuka dengan “Alur”, lagu yang menjadi single pertama yang mereka rilis pascaterbentuk di masa silam. “Alur” menggambarkan tentang bagaimana kekerasan horizontal terjadi di sebuah kota (penggrebekan berbagai diskusi dan acara yang dituding kekiri-kirian, persekusi berbasis agama, kerusuhan sektarian, perepresian hak hidup LGBT). Bahwa kekerasan tersebut tidak melulu horizontal, melainkan juga vertikal karena bagaimana pun Negara dan aparatusnya memiliki andil dalam terjadinya kekerasan ini, misalnya dengan mendiamkan terjadinya kekerasan tersebut, atau malah memerintahkannya. Dalam bait “terkurung pada kota yang tergenang ketakutan dan lupa yang selalu kita amini (telah kita sesali)”, Kota & Ingatan menyoroti bagaimana warga negara yang tinggal di kota tersebut tak dapat melakukan apapun, mereka harus menerima dengan legawa dan bertahan di kota tersebut karena di situ lah tempat tinggal mereka.

Dalam “Etalase”, Kota & Ingatan menggambarkan bagaimana sejarah selalu mengulang dirinya sendiri, dan yang terus terulang itu adalah sesuatu yang sama: yang lemah selalu kalah dan bingung karena kebohongan yang diulang-ulang. (“dalam kebingungan yang sama, kekalahan yang sama, kebohongan yang sama.”). Orde Baru dan Departemen Penerangan serta bualan “menurut bapak presiden” a la Harmoko, hoax yang bertebaran di media sosial, hingga strategi politik firehose of falsehood yang digunakan salah satu kubu capres, semua adalah kebohongan yang diulang-ulang agar yang lemah bingung dan kalah.

“Elak” mengajak kita mengingat kembali luka-luka lama yang timbul karena kekuasaan (“hingga kemarau kian melemah kau masih terjaga, mengurai lukamu yang semakin dalam). Luka-luka ini digambarkan dalam “Peluru” sebagai “pada segala yang dihilangkan.” Kita tentu tak akan pernah lupa berapa banyak Hak Asasi Manusia dilanggar, dan berapa banyak nyawa dihilangkan demi mempertahankan kekuasaan: Mei 1998, Trisakti, Semanggi 1-2, Talangsari, Tanjung Priuk, tragedi 1965, dan kasus-kasus HAM lainnya. Lebih lanjut “Peluru” menjabarkan bahwa “darah kami yang dulu tertanam, telah tumbuh menjelma peluru yang mencari setiap persembunyian. Peluru-peluru itu akan terus mencarimu.” Bahwa mulut bisa dibungkam, nyawa bisa dihilangkan, tapi ide akan tumbuh dan menjadi peluru yang memburu para pelaku penghilangan nyawa tersebut. “Derit” melanjutkan naskah tersebut “Kau yang selalu dan begitu sembunyi dari yang selalu menghujam dan selalu memburumu.” Mereka harus selalu sembunyi dari peluru yang memburu keadilan.

Kurun ditutup dengan manis oleh nomor bertajuk “Memoar”. Sebuah lagu tentang harapan yang kandas dan tak kunjung terwujud. (“Kita temu dan luruh menatapi persimpangan yang tak pernah bertemu. Gadis Rumbai Jagung duduk di sudut itu.”). Mungkin, Gadis Rumbai Jagung adalah pengejawantahan dari generasi muda Indonesia yang apatis karena harapannya akan kehidupan yang lebih baik tak kunjung terwujud. Atau, ini menyisakan misteri yang menarik: siapa sebenarnya Gadis Rumbai Jagung?

Kesimpulan: sebuah refleksi

Sebagai sebuah album perdana, Kurun berhasil menunjukkan integritas Kota & Ingatan sebagai band yang menjanjikan: aransemen musik bak distopia, pemilihan diksi lirik yang sangat baik, serta sikap politik mereka yang tentu bukannya tanpa resiko. Barangkali, sikap politik dan musik mereka yang politis sejak dalam pikiran akan membuat jengah media-media sehingga enggan memuat kabar tentang mereka, atau bikin gamang penyelenggara acara untuk mengundang mereka karena takut Kota & Ingatan bikin ulah di perhelatan tersebut.

Kurun, lahir dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya, Kurun dengan musik dan liriknya yang subtil akan membuat pendengar tak hanya mendengar (pasif), namun para pendengar akan mendengarkan (aktif) album ini demi mengurai dan mencerna pesan dan makna apa yang terkandung di dalamnya. Kurun mengajak pendengarnya belajar mendengarkan musik secara aktif dan berpikir lebih dalam, tak hanya menganggap musik sebagai hiburan yang menyejukkan dahi pun tidak.

Kekurangannya, Kurun secara tidak langsung membentuk segmentasi untuk pendengar Kota & Ingatan. Barangkali, di zaman di mana layanan musik daring seperti Spotify hadir dengan jutaan pilihan musik, Kurun yang juga terkatalog di Spotify akan tenggelam. Beberapa orang akan menganggap musik dan lirik Kurun tidak enak didengar dan terlalu rumit dipahami. Lagi pula, problematika hidup sudah sedemikian banyak. Untuk apa ditambah rumit lagi dengan mendengarkan album musik yang bicara tentang politik kotor dan tawaran melakukan politik otentik?

Kembali ke gagasan politik otentik Hannah Arendt, kemutlakan pemisahan antara yang privat dan yang publik dalam politik sangat diperlukan dalam rangka menumbuhkan kehidupan yang pluralistik. Ketika setiap orang memiliki kebebasan untuk melakukan tindakan politik, persoalan bersama bisa dipecahkan dengan adu ide dan argumentasi antarwarga negara dan Negara. Hannah Arendt berusaha membuka jalan agar politik bermanfaat untuk keutamaan publik.

Melalui Kurun, Kota & Ingatan menguak bopeng-bopeng politik kotor, serta mengajak kita berpolitik dengan mengedepankan kepentingan publik.

Pertanyaannya, bagi mereka yang sudah berhasil menangkap maksud dan tujuan Kota & Ingatan di Kurun, maukah mengajak dan membimbing mereka yang belum berhasil menangkap gagasan tersebut untuk turut serta berpartisipasi?

Jika ditarik ke ranah yang lebih luas, maukah kita berpolitik otentik bersama demi kemaslahatan seluruh warga negara? Atau kita tetap diam saja dan cukup menjadi partisipan di pemilu tiap lima tahun, lalu pasrah menjadi korban para pemangku kekuasaan yang terpilih?

Aris Setyawan

Aris Setyawan

Etnomusikolog dan musikus. Baru saja menerbitkan buku pertamanya "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017. Warning Books/Tan Kinira Books). Bisa dihubungi di surel arisgrungies@gmail.com, instagram setyawanaris, atau twitter @arissetyawan. Bercerita di arissetyawanrock.wordpress.com
Aris Setyawan

Latest posts by Aris Setyawan (see all)