Serunai.co
Ulasan

Menyimak Komposisi Lintas Batas dari Kira Linn’s Linntett

Hentakan snare dari drum itu begitu padat terdengar. Tempo yang semula lambat tiba-tiba berubah cepat, keriuhan drum itu beradu dengan dentuman bass. Kadang, terselip noise elektronik dalam bass dan drum yang seakan saling mengejar.

Tom-tom dari drum digebuk secara ritmis, ia membuat pola perkusif yang semakin padat. Nada-nada minor yang mendentum rendah dari bass semakin berpola, ia membentuk bassline yang bernuansa gelap. Saksofon bariton dan alto bersamaan membunyikan melodi utama lagu. Ditopang oleh bassline dan tomb yang perkusif, komposisi Kira Linn berjudul “Rage” dibuka dengan nuansa yang agak menegangkan.

Tapi, komposisi ini berganti menjadi agak cerah pada bagian refrain, seakan-akan membawa pendengar berjalan dari titik gelap menuju binar dari bayangan cahaya. Saksofon alto dan bariton menyahut-nyahut, seperti sedang membagi tugas untuk membangun harmoni. Setelah dibuka dengan bagian yang agak gelap, bagian ini menghasilkan semacam kehangatan yang melodik. Drum tak lagi digebuk dengan tegas dan perkusif, suara cymbal dan hi-hat jadi senada dengan sahutan saksofon.

Bagian refrain itu penuh modulasi nada dengan pola ritmik dan harmoni yang bersahutan secara hangat, tetapi kehangatan itu segera usai ketika memasuki bagian improvisasi. Kira Linn langsung menyambut dengan saksofon baritonnya, ia melakukan improvisasi dengan frasa pembuka bernada rendah. Karakter saksofon bariton yang berciri khas berat dan lembut sangat terdengar. Kira Linn kemudian membangun frasa improvisasi yang lebih cepat, dengan kompleksitas nada yang intens. Sementara, drum dan bass masih menopang improvisasi Kira.

Komposisi berjudul “Rage” itu adalah salah satu bagian kecil dari pertunjukan Kira Linn’s Linntett. Mereka adalah musisi-musisi muda dari Jerman, dengan Kira Linn pada saksofon bariton, Nino Wenger pada saksofon alto, Freek Mulder pada bass, dan Johannes Koch pada drum. Kira Linn’s Linntett membawakan komposisi dari Kira Linn, komponis dan saksofonis perempuan asal Jerman. Sepanjang bulan Mei 2023 mereka melakukan tur di Vietnam, Thailand, Indonesia, dan Malaysia.

Baca Juga:  (Hasrat) Yang Kini Terbaring

Tepat pada 24 Mei 2023, saya mendengar karya-karya Kira Linn di ruang pertunjukan Goethe Institut Jakarta. Selama pertunjukan ini, jelas ada antusiasme besar dari para penonton Indonesia. Goethe Institut di Jalan Sam Ratulangi sudah penuh, bahkan sejak satu jam sebelum gerbang ruang pertunjukan dibuka. Ruang pertunjukan sama penuhnya, bahkan banyak penonton yang masih antre untuk mendapat tempat. Bangku-bangku telah penuh, beberapa penonton sampai menikmati pertunjukan dalam posisi berdiri. Para pendengar sangat bersemangat menyambut Kira Linn dalam rangkaian tur Asia Tenggaranya.

Karya yang disajikan itu kebanyakan berasal dari album Illusion, judul album itu juga yang menjadi tema dari rangkaian tur Asia Tenggara ini. Meski, ada beberapa komposisi Kira Linn lainnya yang disajikan di Goethe Institut, yaitu “Earth” dan “Slow Motion”. Dalam komposisinya, banyak eksperimentasi dan upaya Kira Linn untuk bermusik secara lintas batas. Komposisi yang berakar pada jazz kontemporer memang masih dominan terdengar, meski jelas terasa pengaruh drone music, neo-soul, pop, dan RnB.

Selain komposisi yang eksperimental, menariknya Kira Linn juga membahas isu-isu penting sebagai inspirasi tematik. Dalam komposisi “Women in the Sky” misalnya, Kira Linn menyuarakan isu sosial dan posisi perempuan dalam himpitan patriarki. Begitu juga dalam komposisi “Slow Motion”, Kira berusaha merefleksikan hingar bingar ruang perkotaan. ]

Sebelum memainkan “Slow Motion”, Kira Linn bercerita tentang betapa kacaunya lalu lintas di Jakarta dalam momen kunjungan pertama kalinya ke Indonesia ini. Dalam komposisinya, Kira mengaitkan pengalaman hidupnya dalam ruang urban dan keriuhan Jakarta. Komposisi itu adalah upaya musikal untuk bergerak lambat dan reflektif, sekalipun dalam gaduhnya situasi perkotaan.

“Slow Motion” menyajikan komposisi ballad, lengkap dengan suara brush stick dari drum dan kelembutan harmonis duet saksofon. Komposisi ini didominasi balas membalas frasa dari saksofon Kira Linn dan Nino Wenger. Dengan awalan ballad yang minor, bagian utama komposisi ini sangat penuh modulasi yang menarik, membuat nuansa lembut yang dibangun dalam bagian awal menjadi penuh lapisan modulasi. “Slow Motion” memang komposisi yang saya pribadi sukai, selain “Rage”, “Numb_ers”, dan “Underwater”.

Baca Juga:  Merintis Pengarsipan Musik Indonesia

Komposisi Kira Linn menjadi semakin menarik ketika direspons oleh pianis Sri Hanuraga, ia menjadi kolaborator dalam pertunjukan di Goethe Institut Jakarta. Komposisi “Numb_ers”, “Underwater”, “Zoom”, dan “Solitude”, menjadi lebih kuat ketika diresponss improvisasi Sri Hanuraga. Jari-jari pada piano itu berbalasan dengan hentakan ritmis dari drum, apalagi balas-membalas ini memuncak ketika improvisasi bass dari Freek Mulder direspons Sri Hanuraga.

Tradisi call and response dalam jazz menjadi kuat sekali terdengar dalam kolaborasi ini, terutama ketika improvisasi Kira Linn’s Linntett berdialog dengan Sri Hanuraga. Proyek musikal Kira Linn yang bereksperimen dengan musik lintas batas menjadi tidak sekadar lintas genre saja, tetapi percakapan lintas budaya antara musisi Jerman dan pianis Indonesia. Kolaborasi ini menjadi ruang untuk saling membangun dialog, spirit jazz sebagai upaya berdialog kemudian terjadi dan melahirkan percakapan musikal yang mengagumkan.

Dalam ruang dialogis ini, eksperimen Kira Linn melebar juga pada ranah di luar musik, yaitu puisi. Dalam komposisi “Zoom”, Kira menggunakan puisi untuk merespons keterkurungan dan kesedihan dalam pandemi Covid-19. Tentu isolasi sosial pada saat pandemi membuat para musisi tak bisa tampil di panggung, apalagi untuk bertatap muka langsung dengan para pendengarnya.

Puisi dan eksperimen musikal kemudian jadi jalan yang Kira Linn tempuh untuk melampaui keterkurungan. Dalam eksperimen ini, dialog antara musik dengan puisi tidak disajikan sebatas musikalisasi puisi. Sementara sajian musik dan puisi arus utama selalu menyajikan pembacaan puisi dilatari musik. Kira Linn dengan eksperimen ini menjadikan puisi itu sendiri sebagai bunyi, ketika kata-kata ikut berdialog dengan bunyi instrumen. Puisi semacam dialihkan menjadi mantra bunyi, lalu piano, bass, saksofon, dan drum meresponsnya. Eksperimen ini jadi menarik sebab musik bukan sekadar latar dan pengiring dari puisi, tetapi semua itu adalah dialog antarbunyi. Sehingga tak ada sekat pemisah antara puisi dan tradisi improvisasi dalam jazz.

Baca Juga:  Alam Liar Sarkem Jogja, Debut Vivacity yang Menolak Bernasib Buruk

Kata kunci yang saya alami dalam pertunjukan Kira Linn’s Linntett adalah lintas batas. Komposisi-komposisi Kira Linn sendiri sangat lintas genre, antara jazz dan musik-musik lainnya. Tetapi, eksperimen tentang puisi juga memperlihatkan upaya melintasi batas antara sastra dan musik. Improvisasi ternyata pada dirinya sendiri memungkinkan adanya bentuk estetika yang lintas batas, mungkin dalam hal itulah Kira Linn’s Linntett penting untuk didengar. [] [Amos. Ed: AS]

Related posts

Sedikit Lebih Manis, Banyak Tawanya

Robertus Rony Setiawan

Teater yang ‘Bukan-Bukan’ ala Teater Garasi

Robertus Rony Setiawan

Pesona Silat Jawa Minang

Michael H.B. Raditya

Tinggalkan komentar

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy