Variasi Pada Jalan Pulang

Grup musik pop-balada Yogyakarta, Jalan Pulang, merilis mini album (EP) terbaru pada 6 Agustus lalu. Ini adalah rilisan kedua mereka setelah album panjang pertama bertajuk Jalan Pulang diluncurkan pada 2012 silam.

Secara konsep, album yang diberi judul Variasi Pada Tema Pulang ini berbeda dengan yang sebelumnya. Irfan Rizky Darajat, penulis lagu dan vokalis Jalan Pulang, kali ini bermain solo tanpa sokongan instrumen dari rekan-rekannya. Ia mengaku EP ini adalah buah keisengannya sembari menunggu album panjang (LP) kedua mereka. Semua lirik dan musik ia kerjakan secara impulsif. Meski menggarap sendiri, Irfan tidak kemudian merilisnya sebagai album solo atas namanya. “Setelah bangun dasar musik sudah jadi, aku menawarkannya kepada personel yang lain. Ternyata materi tersebut sudah dianggap matang. Dan teman-teman yang lain setuju kalau lagu-lagu ini dirilis di bawah nama Jalan Pulang,” katanya.

EP tersebut berisi lima lagu dengan format akustik. Sesuai dengan tajuknya, setiap lagu mengandung cerita tentang ‘pulang’ atau ‘kepulangan’. Baik pemaknaan pulang secara harafiah maupun metaforis. Nomor ‘Putri Salju’, misalnya, bercerita tentang seorang pekerja seks komersial yang ingin mengakhiri hidupnya. Ada pula nomor ‘Mei’ yang berkisah tentang seorang pria yang menanti kekasihnya kembali pascatragedi kekerasan massal pada akhir periode 1990an. ‘Mei’ adalah lagu pertama dari mini album ini yang dirilis ke publik pada bulan Mei silam untuk memeringati peristiwa kelam yang merundung kaum perempuan Tionghoa di periode 1998. Apakah lagu-lagu ini punya nuansa politik? “Ya,” bagi Irfan.

Pada sebuah obrolan dengannya di suatu malam pada akhir Agustus lalu, saya menyanggah bahwa tidak semua lagu dalam Variasi Pada Tema Pulang terdengar politis. “Memang tidak semua politis. Tapi semua lagu punya statemen… dan itu politis,” jawabnya. Ia mencontohkan beberapa lagu yang baginya cukup memuat pesan-pesan tersebut. “’Rumah Dijual’, itu tentang aktivis hilang yang kasusnya nggak selesai-selesai. ‘Kereta Perjalanan Malam’, itu ku tulis dengan niatan soal aktivis yang pulang naik kereta. Aku mau motret suasana di dalam kereta dan alam pikirnya dia. Tapi memang bisa siapa saja, tidak harus aktivis. ‘Mei’ soal kekerasan pemempuan Tionghoa pada ’98,” jelas Irfan.

Meski demikian, dalam rilisnya, Jalan Pulang menjelaskan bahwa tafsir tersebut tidaklah mutlak. Siapapun berhak menafsirkan makna yang tersirat dari lirik-lirik tersebut. “Kami tetap membebaskan bagaimana pendengar menyusun cerita-ceritanya sendiri yang muncul setelah mendengar lagu-lagu dalam mini album ini,” kata Irfan.

Ada sebuah kalimat yang cukup menggelitik pada bagian akhir rilis, yang mungkin diniatkan sebagai satire: “Mini album ini tidak perlu ditanggapi terlalu serius, didengarkan sambil lalu saja, sebagaimana seluruh cerita tentang manusia dan rumahnya yang selama ini seringkali kita tak acuhkan.” Saya menafsirkan kalimat ini sebagai sindiran bagi orang-orang hari ini yang dengan mudah mengalihkan perhatiannya pada apapun yang ramai dibicarakan di media, baik media massa ataupun media sosial. “Bukankah kita selalu begitu? Merayakannya di saat tertentu, lalu melupakannya begitu saja seiring dengan trending topic yang juga berganti,” tukasnya.

Pemilihan tajuk tersebut tidak dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan nama grup mereka, terlebih lagi meromantisasi. “Walaupun ada risiko dianggap seperti itu. Tapi, biar sajalah,” ujarnya. Variasi Pada Tema Pulang diakuinya diadaptasi dari sajak milik Subagio Sastrowardoyo yang berjudul Variasi Pada Tema Maut. Tanpa tedeng aling-aling, ia menggunakan komposisi frasa serupa untuk menciptakan lagu-lagu bertema pulang. Ide itupun didapatnya usai membaca buku Creative Writing karya AS Laksana. “Aku coba mempraktikannya setelah baca buku itu. Lalu jadilah lagu berjudul ‘Rumah Dijual’,” jelas Irfan. Itu menjadi satu-satunya lagu hasil metode free-writing yang dianjurkan dalam buku tersebut.

Distribusi Cara Lain

Tapi dari banyaknya cerita-cerita di balik proses kreatif album tersebut, ada satu hal yang menurut saya juga menarik. Mini album ini tidak dirilis dalam bentuk fisik, alih-alih didistribusikan melalui situs berbagi mediafire. Tidak hanya itu, re-kreasi lagu dan artwork album secara semena-mena juga dipersilakan, tanpa prasyarat apapun. Mereka berusaha menerabas konsep hak cipta yang sejak era internet kian dipusingkan oleh sebagian musisi maupun pengamat musik. Jurnalis musik, Wendi Putranto, misalnya, dalam sebuah kesempatan wawancara mengatakan bahwa banyak orang Indonesia yang tidak paham soal hak cipta, yang di dalamnya melekat hak moral dan hak ekonomi penciptanya.

Namun, banyak juga musisi yang percaya bahwa arus distribusi bebas di era digital memang tak bisa dibendung. Jadi daripada sibuk melarang atau mengimbau pendengar untuk tidak mengunduhnya secara ilegal, mereka memilih untuk memberi akses terhadap karya mereka seluas-luasnya. Dengan kata lain, mereka melegalkan distribusi bebas tanpa transaksi sepeser pun.

Vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, punya argumen sendiri soal mengapa musik boleh—tidak mesti harus—digratiskan. Menurutnya musik adalah bagian dari ilmu pengetahuan. Dalam proses berkarya, ia kerap mengandalkan sumber pengetahuan yang didapatkannya secara cuma-cuma di internet. Maka menurutnya, membebasunduhkan musiknya adalah salah satu cara untuk membalas jasa yang diberikan oleh internet dan netizen kepadanya. “Format rilisan itu hanya pemanis,” kata Cholil dalam sebuah artikel.

Ada dua pendapat yang bertolak belakang di sini. Namun, keduanya bisa dipahami mengingat titik berangkat argumen masing-masing memang berbeda. Yang satu menganggap musik sebagai sumber ekonomi alias komoditas, sementara yang lain menganggap musik sebagai karya an sich, sebagai ilmu pengetahuan.

Mungkin sudah banyak—bahkan sangat banyak—band yang mendistribusikan karyanya secara cuma-cuma. Musisi yang bernaung dalam netlabel, misalnya, sudah melakukannya sejak lama. Tapi bagi Jalan Pulang, ini adalah hal baru, sebab mereka tidak sejak awal mengadopsi corak distribusi semacam itu.

Alasan Jalan Pulang menggratiskan album ini sesederhana lantaran EP tersebut cuma selingan di tengah penggarapan album panjang kedua. Namun, Irfan, sosok di balik konsep Jalan Pulang, punya pertimbangan lain saat mengambil keputusan tersebut. Ada beberapa alasan. Pertama, ia mengamini bahwa membendung pembajakan di era digital adalah sia-sia. Oleh karena itu ia memilih sikap untuk “tidak takut dibajak”. Sebuah pernyataan yang menantang, menurut saya. Mungkin serupa kampanye #kamitidaktakut yang kita dengar di media sosial pascaserangan kelompok bersenjata di Sarinah, Jakarta, awal tahun ini. Alih-alih menunjukkan ketakutan dengan memberi peringatan ke sana-sini, ia malah menyodorkan seluruh karya yang ada di album tersebut untuk diperlakukan semaunya—bahkan untuk diabaikan sekalipun.

Kedua, ia mengaku tak ingin mengulang skema produksi yang dianggap alternatif namun sebenarnya masih meniru pola industri besar. “Aku cuma tidak ingin mengulang skema produksi industri besar dalam skala yang lebih kecil,” katanya. Sebagai pembanding, ia mencontohkan pola distribusi yang berlangsung di skena dangdut koplo. Menurutnya pola produksi yang dilakukan oleh para pelaku industri dangdut koplo sangat ‘radikal’.

Di jagat dangdut koplo, konsep penciptaan atau hak cipta menjadi bias lantaran distribusi dan reproduksi yang begitu sporadis. Mereka juga sering mereproduksi lagu-lagu pop untuk dikemas dengan irama dangdut bertempo cepat. Kita tentu sudah terbiasa melihat atau mendengar sebuah orkes koplo mengaransemen ulang lagu Dewa, bahkan Superman Is Dead. Apakah mereka memusingkan soal ancaman gugatan hak cipta? Saya ragu. Mereka juga hampir tidak pernah keberatan lagu-lagunya dimainkan ulang dan diproduksi dalam bentuk rilisan fisik oleh kelompok orkes lain.

Mungkin kita tidak akan menemukan cd/vcd dan kaset dangdut koplo di toko-toko rekaman besar. Bahkan mungkin kita tidak juga menemukannya di gelaran semacam record store day atau cassette store day, meski di event tersebut kita kerap menjumpai rilisan lawas dangdut Melayu, macam Soneta atau Elvy Sukaesih. Namun, kita akan dengan mudah menemukan vcd—entah bajakan atau bukan, terlalu sulit membedakannya—di pasar tradisional, pasar kaget, terminal, atau tempat-tempat yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang kalangan bawah. Tidak cuma itu, menurut Irfan yang belakangan mendalami kajian terkait tema-tema tersebut, juga mengatakan bahwa popularitas sebuah lagu dangdut koplo juga bergantung pada supir-supir truk antarkota. “Para supir truk itu yang membawa lagu-lagu koplo dari Jawa Timur ke ujung utara Sumatera. Mereka menyetel itu di perjalanan, di warung-warung peristirahatan. Dari sanalah kemudian lagu-lagu dangdut koplo beredar secara liar,” papar Irfan.

Orkes Melayu atau lebih familiar dengan akronim OM, hampir tidak pernah menggantungkan hidupnya dari rilisan fisik. Mungkin kita sering secara kebetulan melihat tayangan rekaman live dangdut koplo di lapak pedagang vcd bajakan atau di bis antarkota. Jika kita perhatikan betul, hampir di sepanjang tayangan ada teks berjalan yang berisi imbauan untuk tidak menggandakan rekaman dan segala basa basi aturan terkait hak cipta. Tapi apa itu berlaku? Sejauh yang saya tahu, sepertinya tidak. Sebab disadari atau tidak, dari pembajakan tersebutlah mereka bisa bekelana dari panggung ke panggung, dari kota ke kota. Dengan demikian umur mereka pun kian panjang.

Wendi Putranto pernah memberi pernyataan yang cukup menohok bagi sebagian kalangan musisi soal ‘distribusi ilegal’ ini. “Jika karyanya dibajak dengan bangga si musisi menjadikannya sebagai tolok ukur bahwa musiknya disukai, ” katanya dalam sebuah wawancara. Meski yang dirujuk oleh Wendi adalah pembajakan dalam arti sebenarnya, namun, sadar atau tidak, kita seringkali membiaskan istilah “bajak” (piracy) dan “bagi” (share). Tapi saya enggan membicarakan perbedaan kedua istilah tersebut di sini.

Di era ketika apapun bisa dikomodifikasi, maka rilisan fisik sebenarnya tidak menjadi satu-satunya sumber pendapatan bagi musisi. Sebelum rilisan fisik kembali naik daun, ada masa di mana fans lebih tertarik mengoleksi kaos sebuah band ketimbang cd atau kasetnya. Bahkan tipe fans seperti itu masih dapat kita temukan hari ini, saat rilisan fisik sudah hype lagi. “Apa sih yang bikin band indie bertahan? Dari merchandise, panggung dan rilisan. Zaman digital begini, mau dikunci atau tidak tetap dibajak. Produksi sendiri, jualin sendiri dengan jumlah terbatas, kolektibel, itu tidak jadi masalah. Kalau mau jualan, ya jualan aja, tapi nantinya seluruh laguku akan bisa diunduh gratis,” kata Irfan.

Senada dengan Cholil, bagi Irfan rilisan fisik adalah bonus. Tapi tidak semata-mata bonus, tentunya. Rilisan fisik bisa dimaknai lebih dari sekadar urusan jual beli. Ia bisa menjadi ruang interaksi antara pemusik dan pendengar. “Tapi aku juga tidak bermaksud mengkultuskan rilisan fisik. Zaman memaksa kita beradaptasi, tapi tidak lantas membuat rilisan fisik dilupakan,” tambahnya. Sebagai pemusik rilisan fisik adalah sebuah capaian, sebuah dokumentasi atas kerja yang telah dilakukan. Itu yang membuat sebuah karya abadi.

Saya kemudian membayangkan seorang pemuda 20 tahun mendapatkan kaset yang dirilis tepat di tahun yang sama ia lahir dalam sebuah gelaran record store day. Di situlah regenerasi pengetahuan dimulai, yang belum tentu terjadi jika rilisan fisik tak pernah ada. Pada titik ini, derajat rilisan fisik telah melampaui soalan untung rugi dalam logika transaksional.

Perdebatan soal mana yang lebih absah dan ideal biarlah menjadi bahan diskusi panjang. Keduanya punya argumen masing-masing yang sama betulnya. Namun sebenarnya tidak saling menegasikan sebab worldview-nya memang sudah berbeda. Corak produksi dan distribusi hanya soal pilihan. Toh, setiap orang akan memilih yang paling relevan bagi dirinya, termasuk dalam urusan konsumsi musik.

Ferdhi Putra

Ferdhi Putra

Peminat kajian subkultur.
Ferdhi Putra

Latest posts by Ferdhi Putra (see all)