Serunai.co
Ulasan

Metamorfosis Kuntari

Kuntari - Larynx
Kuntari - Larynx

Metamorfosis adalah kisah yang selalu menarik untuk disimak. Perubahan ulat menjadi kupu-kupu adalah cerita yang memesona. Seperti juga kisah perubahan yang manusia gubah dalam ribuan fiksi: Putri Duyung berubah menjadi manusia, kisah tragis Tumang yang berubah menjadi anjing dan dibunuh Sangkuriang untuk diserahkan kepada Dayang Sumbi, hingga kisah masyhur Cinderella yang malih rupa dari gadis biasa menjadi tuan putri yang cantik rupawan.

Di dalam dunia yang fana ini, metamorfosis atau perubahan adalah sebuah keniscayaan. Dalam hal apapun. Termasuk di dunia musik. Sepanjang sejarah peradaban, musik selalu berubah, termasuk musisi atau manusia yang menciptakan dan memainkan musik itu. Kisah metamorfosis di dunia musik ini juga tak kalah seru untuk disimak.

Metamorfosis ini terkadang sangat ekstrem. Menyeberang dari satu sisi ke sisi lainnya. Kita bisa melihat contohnya misalnya dari bagaimana John Cage, seorang komponis musik klasik terkenal, malih rupa menjadi seorang musisi avant-garde yang menghadirkan kesunyian di repertoarnya. Atau di dalam negeri, bagaimana Rhoma Irama, seorang musisi yang sangat menggilai musik rock a la Deep Purple, berubah dan mengubah musiknya bersama OM Soneta menjadi dangdut yang penuh petuah dakwah.

Contoh lain metamorfosis di dunia musik ini dapat kita lihat dari Tesla Manaf. Tapak tilas ke beberapa tahun yang lalu, Tesla Manaf sempat moncer sebagai musisi jazz. Permainan gitarnya bikin banyak orang—termasuk musisi senior—terpukau. Tesla menjadi anak kesayangan baru di kancah jazz Nusantara. Puja-puji selangit banyak dilontarkan orang ke Tesla yang sebelumnya pernah mendalami musik klasik juga selama kurun waktu 10 tahunan.

Ketika mendapat perhatian sebesar itu di skena jazz, seharusnya Tesla tetap bertahan saja di zona nyaman dan aman itu. Dengan bakat dan dedikasi yang ia miliki, Tesla sudah pasti akan tetap terkenal di kancah jazz hingga puluhan tahun ke depan. Tesla seharusnya tetap memetik dan menggenjreng gitarnya dalam musik jazz. Toh bukankah memang kemasyhuran adalah salah satu hal yang orang cari ketika bermain musik?

Baca Juga:  Tony Juga Manusia Biasa: Ulasan Film Roadrunner dan Eulogi yang Terlambat

Namun, Tesla Manaf ternyata mengalami metamorfosis juga. Alih-alih bertahan di dunia jazz yang membesarkan namanya, Tesla memilih menyeberang ke ekstrem lain. Ia memutuskan gantung gitar, mengganti namanya dengan moniker KUNTARI, dan berkarya di sebuah belantara liar bernama musik eksperimental.

Butuh keberanian besar untuk bisa menyeberang sejauh ini. Gantung gitar dan pensiun dini dari jazz dan malih rupa berkarya di musik eksperimental berarti Tesla harus memulai dari nol lagi. Ia harus menggubah musik-musik baru lagi yang jauh dari kesan jazz, ia harus mendekati dan mencoba bersosialisasi lagi dengan komunitas dan kancah musik eksperimental. Pokoknya, ini adalah sebuah awal yang baru.

Kisah metamorfosis Tesla Manaf menjadi KUNTARI adalah kisah yang menarik karena Tesla dengan segala bakat dan dedikasinya berhasil menjalani perubahan itu dengan indah. Black Shirt Attracts More Feather, album eksperimental pertama KUNTARI yang dirilis pada 2020 menjadi jalan pembuka untuk KUNTARI menjelajahi jagat eksperimentasi. Disusul dengan Last Boy Picked pada 2021, dan Larynx pada 2022. Metamorfosis KUNTARI sudah sempurna.

Di Black Shirt Attracts More Feather, KUNTARI bermain musik elektronik. Bunyi-bunyian yang hadir di situ adalah sintesa, dan bentuk musiknya bisa dilekatkan dengan musik noise, drone, dan avant-garde. Sementara itu di Last Boy Picked, KUNTARI menawarkan formula baru: padu padan dari berbagai instrumen elektronik dan hentakan perkusif berbagai instrumen idiofon dan membranofon.

Maka Larynx yang dirilis pada 2022 adalah album yang setali tiga uang dengan Last Boy Picked. Larynx menghadirkan hentakan idiofon dan membranofon drum set dengan berbagai aksesorisnya, yang dibalut dengan ambience dari piranti elektronik, cornet/trumpet, hingga gitar. Ya, Tesla memainkan lagi gitar yang sebelumnya sempat digantung. Namun, kini ia memainkannya dengan cara yang tidak konvensional.

Baca Juga:  Philippe Jaroussky: Sang Tenor-Kemayu Ternama Masa Kini

Mendengarkan Larynx, kita ibarat mendengarkan suara binatang liar yang memanggil pasangannya untuk melakukan ritual bercinta. Kita juga jadi membayangkan sebuah dunia fiksi yang penuh dengan makhluk-makhluk ajaib seperti peri atau raksasa buto ijo. Larynx terdengar begitu indah tak tepermanai.

Jika musik kita anggap sebagai sebuah bahasa, maka Larynx telah menjadikan KUNTARI seorang munsyi. Ahli yang sangat cakap membicarakan bahasa musik.

Cara KUNTARI berbahasa di Larynx sungguh istimewa. Ia tak hanya menghadirkan aransemen ambience atau noise, dengan cerdas KUNTARI memasukkan suara-suara tribal kuno dengan pola ritmis musik hadrah kuntulan yang kondang di wilayah Banyuwangi. Tak hanya itu, ia juga menyelipkan deretan perkusif sar ping/barongsai Bali-Tiongkok. Mendengarkan elemen perkusif ini akan mengingatkan kita pada keriuhan gong kebyar atau gong gede Bali. Megah, dan mistis karena di Bali sana pola-pola ritmis ini memang menjadi pengiring untuk kegiatan peribadatan.

KUNTARI seakan tak mau pusing memikirkan skala nada. Baginya, yang terpenting dari musik di Larynx adalah elemen perkusif dari drum set dan perkusi yang dimainkan kameradnya Rio Abror, serta perpaduannya dengan dark ambience yang terdengar mencekam.

Mendengarkan Larynx tentu membuat kita bertanya-tanya: kenapa seorang Tesla Manaf harus meninggalkan musik jazz yang secara materi lebih enak didengar, kemudian malih rupa menjadi KUNTARI dengan musik eksperimental yang sungguh liar? Apa pemicunya?

Barangkali Tesla bosan. Ya, dalam jagat musik eksperimental dan avant-garde, kebosanan adalah sesuatu yang lazim. Biasanya, sang musisi tadinya sudah mapan di musik yang—anggap saja—konvensional. Namun, lama kelamaan sang musisi akan bosan dan merasa mentok. Di titik itu biasanya sang musisi kemudian akan keluar dari musik konvensional yang menurutnya sudah membosankan. Lalu keluar pakem, dan bereksperimen. Ini dilakukan demi memperoleh kepuasan artistik dan estetik.

Baca Juga:  Pesona Silat Jawa Minang

Dalam Liner Notes untuk album Larynx ini, Rully Shabara menyatakan bahwa musik eksperimental yang dilakoni KUNTARI adalah sebuah lorong gelap yang mungkin tak berujung. Tesla Manaf alias KUNTARI tentu sudah mengerti betul eksistensi lorong gelap ini. Ia sadar bahwa perjalanannya mungkin bisa tanpa ujung. Namun, tampaknya Tesla sudah siap dengan segala konsekuensi yang harus ia hadapi di lorong gelap ini.

Larynx, album berisi lima repertoar dan berdurasi 44 menit 57 detik ini menjadi pembuktian diri, manifestasi dari pencarian keunikan musik yang dijalani KUNTARI. Sekaligus menjadi saksi metamorfosis KUNTARI. Kita bisa mengucapkan selamat tinggal pada Tesla Manaf, dan selamat datang pada KUNTARI.

Terima kasih KUNTARI, atas penjelajahan musikmu yang sungguh mengasyikkan.

Related posts

Variasi Pada Jalan Pulang

Ferdhi Putra

Tony Juga Manusia Biasa: Ulasan Film Roadrunner dan Eulogi yang Terlambat

Sinta Dwi M

Takut Mati dengan Berani bersama Majelis Lidah Berduri

Aris Setyawan

Tinggalkan komentar

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy