Ary Juliyant: Saatnya Redefinisi Musik Indie

Perbincangan dengan Ary Juliyant. Presiden indie Indonesia dengan semangat gerilya membuncah.

Warung itu bernama Pecel Pincuk. Hidangan yang dijajakan beragam. Namun, kopi hitamnya yang menjadi primadona bagi khalayak. Terutama bagi mahasiswa Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta yang sering bertandang ke sana. Warung ini mepet sawah, berlokasi lebih kurang 200 meter sebelah selatan Kampus Sewon.

Beberapa bulan antara penghujung 2016 hingga awal 2017, warung ini tak hanya menjadi tongkrongan kegemaran muda-mudi artsy untuk bercengkerama bersama pujaan hati, numpang wifi-an mengunduh video Dream Theater dari youtube, atau rapat membahas rencana produksi sebuah pertunjukan. Di malam-malam tertentu, pojokan warung ini disulap menjadi sebuah panggung dadakan, tempat di mana secara rutin dipentaskan berbagai pertunjukan seperti musik, tari, atau teater.

Malam itu (23/01) cukup istimewa. Khalayak yang nongkrong di warung lebih ramai dari biasanya. Mereka hadir untuk menjadi saksi sebuah pertunjukan bertajuk Tausiyah Bunyi: Harmonisasi Dengkur Organik. Ada empat nama musikus tertoreh di poster acara yang menyebar viral di media sosial: Marhaen, Deugalih, Sisir Tanah, dan nama terakhir yang barangkali paling fenomenal dan ditunggu khalayak, yakni Ary Juliyant.

“Wah kalau manggung bareng mas Ary [Juliyant] begini saya tidak berkutik. Wis grogi sik sebelum mulai iki,” tutur Bagus Dwi Danto, punggawa grup folk Sisir Tanah membuka pertunjukan malam itu. Sebuah pengakuan yang jujur nan tulus, wujud betapa ia sangat mengagumi dan menghormati Ary Juliyant.

Ary Juliyant memang menarik. Tidak banyak orang mengenalnya. Namun, sepak terjang musikus yang terlahir dengan nama Ary Daryanto dan menamakan dirinya sebagai Ary Juliyant tersebut di blantika musik Indonesia tidak dapat diragukan lagi. Ia telah konsisten berkarya sejak tahun 80an dengan melepas debut album Overhang. Selama 30 tahun karir bermusiknya, ia telah merilis 30 album. “Njir, saban tahun bertelur,” ujar seorang teman dekat saat saya cerita padanya tentang Ary Juliyant. Yang lebih menarik adalah bagaimana Ary Juliyant memilih jalur sunyi dalam perjalanan musikalnya. Selama puluhan tahun berkarya, Ary memantapkan diri untuk memilih jalur ‘indie’.

Menurut musikolog lembaga kajian musik Art Music Today, Erie Setiawan, wajar jika memang tak banyak orang mengenal sosok Ary Juliyant, karena ia memang memilih jalan sunyi. “Ary tidak ingin terkenal, ia memilih jalur yang sunyi, tidak menjadi perhatian publik, memilih cara yang unik, misalnya merilis CD dengan jumlah sedikit, digambar sendiri, sampulnya bahkan hanya difotokopi. Siapa yang mau dibagikan begitu saja. Dia ke mana-mana tidak peduli disaksikan banyak atau sedikit orang,” jelas Erie pada saya setelah pertunjukan di Warung Pecel Pincuk malam itu.

Lebih lanjut menurut Erie, Ary Juliyant menjadi istimewa karena sikapnya dalam memaknai ‘indie’ sebagai sebuah kerangka berpikir. Erie menilai bahwa logika umum tentang indie selama ini kadung keliru dan maknanya tereduksi hanya sebatas pada produk dan bentuk. “Padahal di luar itu ada sistem, sikap, dan ideologi yang ternyata banyak dilupakan. Menurut saya, kalau secara etimologi, indie adalah pertahanan atas sikap dan ideologi yang merdeka lahir-batin, sepenuhnya tidak pernah ada paksaan dan intervensi siapapun. Ary Juliyant telah paripurna menerapkan itu semua,” tambah Erie.

Bahkan Erie menegaskan keyakinannya bahwa sampai mati sekalipun, Ary Juliyant akan konsisten dengan sikap ‘indie’-nya tersebut. “Saya yakin Ary Juliyant akan konsisten seumur hidup di laku gerilyanya. Karena dia sudah melewati fase matang. Ary telah mencapai kematangan yang stabil, tidak akan menjadi goyah. Dari perkara teknik, bagaimana Ary Juliyant mengolah musik itu istimewa, tidak sekadar genjranggenjreng. Ary sudah paripurna di perkara teknik musik. Misalnya dari segi harmoninya unik-unik. Dari perkara kualitas olah vokal juga luar biasa. Ary Juliyant bisa saya sejajarkan dengan Daniel Sahuleka. Suaranya tidak kita temukan fals sedikit pun, tak ada intonasi yang luput. Improvisasinya di performance juga luar biasa, ia mampu menyesuaikan lingkungan pentas,” pungkas Erie.

Buah dari konsistensi bermusik selama 30 tahun itu memang tidak main-main. Beberapa pihak menobatkan Ary Juliyant sebagai presiden indie Indonesia. Pentas yang hangat dan guyub di bulan Januari tersebut menunjukkan betapa Ary layak menyandang gelar tersebut. Berbekal hanya gitar bolong dan olah pita suara, ia mengagetkan audiens dengan pertunjukan yang memukau, tema lirik yang beragam, aransemen musik yang indah, dan improvisasi spontan yang bikin musikus lain geleng kepala: “kok bisa sih improvisasi di panggung tanpa direncanakan begini? Dan hasilnya bagus tanpa luput satu nada pun.”

Setelah pertunjukan malam itu tuntas, saya berkesempatan berbincang dengan sang presiden indie. Kesan pertama yang saya tangkap dari Ary Juliyant: antusiasme. Rambut gondrongnya mulai beruban di sana-sini, pertanda usia yang mulai menua. Namun, energinya sungguh luar biasa, ia berbicara dengan sangat antusias, menjawab setiap pertanyaan saya dengan menggebu-gebu. Barangkali antusiasme ini juga yang menjadi bahan bakarnya dalam melakoni apa yang disebutnya sebagai ‘konser gerilya’.

Secara berkala setiap tahun musikus balada ini wara-wiri menggelar konser di penjuru Nusantara. Konser gerilya ini digratiskan, penonton tak perlu membayar. Panggung yang ia pilih pun tidak hanya berbentuk konvensional gedung pertunjukan. Terkadang ia mentas di warung bakso, atau lapangan sepak bola. Terkadang ditonton ribuan orang, terkadang puluhan. Namun, ia tetap antusias melakoni setiap perjalanan pentas tersebut. Di usia yang tak lagi muda, Ary Juliyant kerap menggotong sendiri berbagai instrumen musik di sepanjang konser gerilya. Saat di pundaknya tersampir gitar bolong, tangannya masih harus menenteng instrumen lain seperti banjo dan biolin.

Malam itu, ditemani cangkir kopi hitam, dan sepiring camilan gorengan, kami berbincang tentang banyak hal. Dimulai dari epistemologi musik, definisi ‘musik indie’ yang menurutnya perlu diredefinisi, hingga proses kreatifnya dalam berkarya.

Saya perlu memberi catatan bahwa wawancara ini dilakukan lima bulan yang lalu. Namun, karena satu dan lain hal, baru sempat saya tuliskan sekarang. Semoga ini tidak menghilangkan relevansi apa yang Ary Juliyant bicarakan. Karena menurut saya apa yang ia bicarakan tetap relevan hingga detik ini, bahkan dapat menjadi bekal untuk masa depan: bagaimana kita memaknai ‘musik indie’.

Selamat membaca.

 

Menurut Ary Juliyant apa itu musik?

Bagi saya, awalnya musik sesuatu yang menarik kesenangan. Sebagai hiburan. Tetapi kemudian ketika kita sudah terlibat lebih dalam, musik itu menjadi sesuatu yang serius. Akhirnya diketahui bahwa sebetulnya musik itu tidak hanya sekadar hiburan. Musik itu juga untuk berbagai sisi kehidupan, relasi dan benang merahnya banyak. Bukan hanya musik saja, tapi kesenian secara keseluruhan punya benang merah dengan sisi-sisi peradaban seperti ihwal spiritual, sosial, material, dan lain sebagainya. Dan terutama musik juga punya andil yang besar untuk bisa bermanfaat buat banyak hal. Saya hidup di dua sisi dalam menyikapi musik. Pertama, musik sebagai mata pencaharian. Kedua, musik sebagai kebutuhan untuk mengisi perjalanan peradaban. Nah yang saya lihat sekarang ini, banyak orang yang masih memandang musik hanya sebatas hiburan, tidak lebih dari itu. Itu yang sekarang terjadi, dan kita harus berpikir keras, berjuang untuk mengubah paradigma tersebut.

Yang paling terlihat jelas seperti di televisi ya? Tentang bagaimana musik hanya dirayakan sebagai hiburan?

Iya. Walau sebetulnya nggak ada yang salah. Itu sah-sah saja. Tetapi, bahwa yang terpenting bagi kita adalah memperjuangkan untuk memberikan keseimbangan. Jadi, paling tidak persentase untuk orang berpihak pada kepentingan musik dalam sisi lain, itu penting juga untuk diperjuangkan. Terutama ‘kan dari sisi “kacamata”, memengaruhi kacamata orang yang memiliki otoritas untuk menangani masalah kesenian. Ini penting, agar mereka bisa lebih serius memberikan pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya lebih memihak ke musik sebagai bentuk pengetahuan, bukan hanya sekadar hiburan.

Kita sudah bicara contoh musik di televisi. Tetapi kan di situ urusannya dengan industri dan kapital. Maka yang dijual terkesan itu-itu saja. Mas Ary sudah merasa cukup adil sejak dalam pikiran untuk membagi keduanya? Bagaimana cara mas Ary melakoni musik sebagai mata pencaharian dan musik sebagai pengetahuan?

Saya percaya bahwa apa yang saya lakukan adalah bentuk pandangan bahwa industri [musik] itu nggak ada salahnya. Saya juga nggak mengharamkan industri. Tetapi, sebaiknya industri itu tidak kebablasan juga. Industri yang memberikan keseimbangan dalam muatannya lah. Untuk dapat keuntungan, tapi juga harus memberi imbal balik yang baik untuk pihak-pihak yang diambil keuntungannya. Itu udah seimbang. Dan yang saya lakukan sekarang adalah berupaya memberi racun pada dunia entertainment agar bisa lebih cerdas atau lebih inovatif. Menurut hemat saya justru dunia entertainment sangat mudah untuk memberikan penetrasi muatan-muatan [pengetahuan dan inovasi] itu. Dan saya lakukan hal itu ketika bermain sebagai entertainer. Umumnya entertainer bawain lagu-lagu orang. Saya tetap bawakan lagu orang, tapi saya punya sikap bahwa yang saya bawakan dengan cara saya. Saya punya cara sendiri, style sendiri. Ini inovasi.

Misalnya lagu siapa yang dibawakan?

Banyak sih. Umumnya ya lagu yang biasa orang bawakan atau menjadi favorit orang. Terutama kecenderungan musik saya lebih ke blues, jazzy, dan folk. Yang jelas, musik kegemaran orang pada umumnya [musik Top 40 yang lazim dimainkan di kafe. red]. Cuma saya ingin memberikan wacana-wacana baru bahwa yang favorit itu tidak melulu yang itu, ada juga yang lainnya, kan banyak pilihan. Tantangannya di sini adalah bagaimana kita bisa pintar-pintar memilah atau mengambil contoh-contoh materi yang bikin kita tetap disenangi beberapa pihak. Tapi juga tidak khawatir ketika ada orang yang nggak suka. Jadi bukannya melulu bagaimana caranya supaya setiap orang suka. Kita harus membentuk segmen tersendiri yang sekalipun sedikit tapi tetap terpelihara. Misalkan saya dengan cara membawakan dengan gaya-gaya saya. Saya banyak membawakan musik dengan cara improvisasi yang tidak direncanakan, mengalir saja. Karena saya percaya musik bukan untuk dihafalkan, tapi musik adalah medium melatih ketajaman kita untuk bisa bertindak secara spontan.

Berdasarkan literatur yang saya baca, tonggak indie di Indonesia adalah ketika Pas Band sukses merilis 4 Through The Sap pada dekade 90an. Tidak banyak orang tahu mas Ary ternyata sudah mulai lebih dulu pada penghujung 80an. Bagaimana (musik) indie dalam kacamata mas Ary?

Saya percaya bahwa yang membawakan indie itu bukan hanya saya. Maksudnya, bahkan sebelum saya pun pasti ada. Mungkin di Indonesia pada medio 60-an pun sudah ada. Karena kalau saya pikir ketika kita mengangkat tema indie ini ’kan sebetulnya kita mengikuti tren apa yang terjadi di barat. Ketika barat sedang ngetren indie, ya kita bicara indie. Tetapi kadang kita suka lupa bahwa sebetulnya istilah indie ini juga bisa disebut dengan istilah lain yang mungkin kita nggak punya istilah itu. Tetapi yang jelas ketika kita paham indie yang saya tangkap adalah independen, be yourself. Kita menjadi diri kita sendiri, tuan bagi diri kita sendiri. Karena kita waktu itu sadar bahwa ada kecenderungan atau ada hal-hal yang membuat kita, seolah-olah kalah bersaing atau tidak dapat masuk ke sebuah ruang yang ingin kita harapkan. Ya kita gagal menjadi harapan pihak-pihak yang kita sebut industri [major].

Nah bagi saya ketika itu terjadi, ya kita dibiarkan begitu saja oleh industri itu. Sehingga harusnya kita perlu mengambil sikap, bagaimana kita harus bersikap untuk menyampaikan karya-karya kita kepada khalayak. Ya sudah kita lakukan sendiri aja. Itu yang saya percaya dengan indie. Tetapi, ada kecenderungan ketika indie menjadi trendsetter, menjadi populer di era 90-an, itu ketika industri mulai merasa khawatir dengan mewabahnya indie. Mereka kehilangan sebagian besar rejekinya. Di satu sisi saya juga tidak menyalahkan kalau akhirnya pihak industri—sebagai orang dagang—berpandangan “wah istilah indie ini menjadi populer nih, lah ini yang kita dagangin.”

Nah menurut saya ini yang terjadi sekarang. Makanya saya tidak tertarik lagi dengan istilah indie. Saya pikir harus mencari istilah lain. Makanya saya sebut musik saya musik gerilya, untuk menekankan bahwa kita tidak di sisi itu. Karena ketika istilah itu sudah dirusak atau dikerdilkan akhirnya indie menjadi bahan dagangan. Celakanya mayoritas orang-orang ini sebenarnya nggak paham, akhirnya mereka ya ikut-ikut aja.

Sebetulnya, kalau kita mau benar-benar cerdas harusnya bisa berpikir nggak mungkin ada istilah Top Indie Ten dikeluarkan oleh sebuah produksi mayor label. Ini lucu. Nggak usah pake indie lagi, Top Ten Good Music gitu aja kan bisa? Indie itu penempatannya nggak di situ. Namun, di sisi lain saya juga nggak bisa menyalahkan karena memang tidak pernah ada undang-undangnya indie itu harus begini-begitu. Waktu itu, saya pernah dapat undangan ke Jakarta untuk ngobrolin tentang indie. Ada satu pihak punya semangat, “ayo kita bersatu dengan indie, ayo kita samakan!”. Di situ saya nggak setuju. Indie itu nggak bisa sama, justru nggak boleh sama. Apa bedanya dengan [industri] major kalau gitu? Indie itu kan kita ingin bersikap dengan pikiran kita, dengan apa yang kita punya, jangan sampai akhirnya kita terjebak dengan kesamaan atau mencoba menyamakan diri.

Saya sempat berbincang dengan Erie Setiawan perkara indie ini. Menurutnya indie ini jadi kehilangan ruh. Jadi kapital yang sama dengan major, tapi dalam bentuk berbeda. Spirit dan attitude-nya hilang. Mungkin mas Ary memandang itu juga, itulah kenapa muncul wacana musik gerilya. Secara spesifik bagaimana konsep musik gerilya?

Akhirnya justru ketika perjalanan indie itu berlanjut, apalagi setelah kepindahan saya ke Lombok, di sana memberikan banyak ruang kontemplasi buat saya. Jadi saya melihat bahwa ternyata ketika saya bergerilya, kemudian muncul satu pertanyaan: apa sih yang mau kamu gerilyakan? Sebab awalnya yang saya gerilyakan adalah kepentingan bagaimana penyampaian karya-karya ini pada audiens menjadi mudah. Jadi saya harus membentuk jaringan saya, audiens saya, seperti itu. Dan itu akhirnya terjadi. Tetapi kemudian ketika berlanjut, perkembangan referensi bertambah, banyak hal-hal yang kita lihat dari pergerakan bebas yang notabene disebut indie, yang sekarang saya sebut gerilya ini, memberikan saya ruang-ruang percobaan atau uji coba untuk melihat sejauh mana kita bisa. Nah itu mengembangkan pikiran-pikiran baru.

Wawancara diberi jeda sejenak karena Ary Juliyant harus berbincang dengan seorang teman lama yang kebetulan datang ke konser. Sudah lama tidak berjumpa, kesempatan malam itu mereka gunakan bertukar cerita sejenak, melepas kerinduan.

Mas Ary berapa lama di Lombok? Sejak kapan?

Saya mulai tahun 1995 ke Lombok [provinsi Nusa Tenggara Barat. red], sampai sekarang menetap di Lombok.

Bandung saat itu sedang menjadi trendsetter gerakan indie. Kenapa malah memutuskan pindah ke Lombok?

Sebetulnya itu persoalan yang tidak terduga. Saya kebetulan sudah berkeluarga. Saat itu istri saya harus pindah ke Lombok, sehingga saya harus turut serta. Namun, kemudian saya pikir ini ada peluang bagus untuk kita membuat pergerakan di kota lain. Kepindahan itu justru membuat saya berkenalan dengan ruang-ruang lain di luar musik, mendapat teman baru di lingkungan teater dan seni rupa. Ketika saya bertemu mereka di Lombok, ini mengembangkan pikiran saya tentang gerilya. Jadi yang saya gerilyakan itu bukan hanya persoalan musik saya pribadi, tapi bagaimana membuat jaringan ini bermanfaat bagi orang lain. Terutama kasusnya di Lombok, banyak kaum muda yang memutuskan bergerak di indie karena menjadi korban mayor label yang tidak merangkul mereka. Teman-teman di daerah banyak yang menjadi korban mainstream, akhirnya hanya menjadi pengekor saja, pembeo.

Dan yang lebih bermasalah adalah tidak ada upaya pencerahan dari sosok lain yang sudah lebih tua atau mapan. Saya coba memberi tawaran-tawaran baru, untuk bergerilya membangun gerakan musik sendiri di Lombok. Walau pada kenyataannya ketika saya melakukan itu, banyak kaum muda di Lombok yang kencenderungannya tidak tertarik dengan gerakan ini, karena mereka merasa Jakarta yang asyik. Akhirnya setelah bertahun-tahun, banyak kejadian bahwa mereka akhirnya kecewa sendiri karena kadung berharap sangat besar, menganggap Jakarta adalah segalanya, sudah habis uang ratusan juta, ternyata nggak jadi apa-apa. Di titik itu saya tegaskan sekali lagi ke mereka, makanya saya selalu bilang dari dulu, daripada kamu habis banyak uang untuk berusaha ke Jakarta, kenapa nggak kita bangun saja kelokalan sendiri di Lombok?Nah itu pernah saya tawarkan, karena bagi saya, penting sekarang menegaskan bahwa lebih bagus bukan kita yang datang ke Jakarta, tapi biarkan Jakarta datang ke Lombok.

Seharusnya semua seperti itu. Salah satu contohnya saya bilang adalah Bali. Bali itu sangat mencintai ruang-ruangnya sendiri, nah itu yang harusnya terjadi. Saya lihat di Yogyakarta juga sudah mulai melakukan itu. Itu yang membuat saya berpikir bahwa gerilya itu tidak semata-mata kekaryaan saya. Saya tidak terlalu peduli—bukan berarti nggak serius berkarya—saya punya prestasi paling bagus atau nggak, terkenal atau nggak. Yang penting saya tetap punya karya, dan dapat memberikan ruang-ruang yang bermanfaat bagi orang lain,

Ketika banyak orang yang masih mengerdilkan musik hanya di sisi hiburan saja, kemudian ada orang bilang, “Itu kamu gerilya, padahal kan kalau orang gerilya sudah sampai di tujuannya selesai?” Nah, iya betul. Tapi kalau konteksnya sekarang, saya pikir masih banyak hal yang harus digerilyakan. Makanya saya masih bergerilya. Bahkan kalau perlu saya akan bergerilya sampai mati. Karena saya lihat penting untuk melihat gerilya ini bukan hanya sebagai cara atau metode, tapi sebagai cara pandang atau bersikap, atau ideologi. Bukan cara yang dilakukan agar bisa terkenal. Itu sudah saya tinggalkan. Yang saya capai sekarang adalah saya ingin ini menjadi sikap saya. Indie, atau gerilya adalah sikap yang akan saya bawa sampai mati. Istilahnya begini, hidup ini harus tetap belajar. Dan itulah yang membuat saya sangat yakin bahwa hubungannya dengan keagamaan dengan spiritual itu di situ, karena gerilya itu spiritual. Di satu sisi itu memberikan kita referensi tentang bagaimana ber-attitude. Di mana kita selalu merasa tidak sombong, kita orang hidup kan kembali ke situ. Artinya, saya merasa bermusik ini beribadah aja.

Makanya saya suka seloroh: kalau saya terkenal berarti saya gagal. Saya tidak boleh terkenal, karena bagi saya idealnya ketika suatu hal sudah terkenal ya dia sudah terlalu banyak beririsan dengan banyak kepentingan, esensi perjuangannya yang sejati mulai luntur, maka di situ harus menghilang. Saya ini bukan apa-apa. Ini hubungannya dengan kepercayaan sekalipun kita berkarya setinggi apapun, kalau sudah mati ya udah ditinggalkan semua nggak ada apa-apanya Yang terpenting adalah mengambil banyak hikmah dari proses. Kalau hasil akhir itu selesai lah, proses ini yang penting.

Jujur saya nggak pernah dengar ada apa di Lombok. Bagaimana perkembangan kancah musik di sana? Yang saya, dan barangkali kita, dengarkan selalu Yogyakarta, Bandung, atau Jakarta. Setelah menetap di sana sejak 1995, menurut mas Ary bagaimana perkembangan musik di Lombok sekarang?

Nggak tahu ya, kalau dari kacamata saya dan dari orang Lombok sendiri. Ada beberapa kelompok-kelompok yang sekarang juga memang sudah ke luar Lombok, mereka mencoba menanamkan pengaruh di Bogor atau juga ada yang di Yogya. Karena banyak juga anak-anak Lombok yang kuliah di Yogya atau di Malang. Kemarin saya ketemu orang Lombok yang kuliah di Malang terus bikin band. Kesimpulannya, saya tidak bisa menjawab di Lombok sukses, tapi relatif. Karena banyak di Lombok punya krisis percaya diri. Mereka juga masih mencoba menghadapi kota lain yang sudah mapan. Lombok secara infrastruktur jelas masih kurang. Walau sekarang saya guyub juga dengan beberapa grup indie di sana. Dan kita sekarang di sana lebih ke konsolidasi di dalam aja dulu. Kita tidak terlalu ngoyo. Tentu kita punya cita-cita untuk menjadi sesuatu. Tapi ya itu tadi kita kekuatan masih lemah, infrastruktur aja masih rapuh. Di Lombok sendiri yang saya lihat pusatnya masih di Mataram. Sebenarnya ini kurang menarik. Yang menarik ketika pengaruh itu juga kuat di wilayah lain seperti Lombok Utara, Timur, Selatan, Barat, atau bahkan Sumbawa. Ada beda demografis dan geografis yang membuat masing-masing daerah beda dan nggak bisa disamakan.

30 tahun, 30 album, ini luar biasa sekali. Kita bicara konsistensi. Dalam pengamatan saya, segalanya serba cepat di zaman ini, dunia makin cepat. Nah ini mendidik generasi sekarang, terutama di musik, untuk naik cepat, sukses dengan cepat. Konsistensi jadi sesuatu yang langka. Resepnya apa sih mas untuk bisa konsisten berkarya?

Konsisten bisa dilihat dari latar belakang, dari mana kita berangkat. Kalau kita berangkatnya hanya untuk niat terkenal ya sudah, begitu sudah terkenal selesai sudah. Jujur saya menemukan ini juga karena proses yang tidak sengaja. Kesimpulan saya dari perjalanan gerilya ini, ternyata, yang penting kita berangkat dari mana. Saya akui, saya dulu terpengaruh dengan pikiran narsis, pikiran pengen terkenal. Namun, sepanjang perjalanan memberi saya banyak pelajaran bahwa sebenarnya justru yang bikin konsisten adalah kegelisahan, kegairahan untuk mencari apa, apa, dan apa? Ada apa lagi nih? Karena ketika kita berhenti untuk mempertanyakan itu, atau berhenti gelisah, ya udah selesai. Itu aja. Kuncinya adalah peliharalah kegelisahan itu, itu akan jadi bahan bakar, dan kita jangan percaya pada sebuah pikiran bahwa goal itu segalanya. Proseslah yang utama. Nikmati prosesnya. Karena ini nggak ada ujungnya.

Ketika kita misalkan ada target, mesti akan ada step berikutnya. Yang jelas kesadaran harus dibangun bahwa kita sudah siap untuk terus melakukan pendalaman-pendalaman. Banyak menangkap referensi, banyak melihat peta. Kita harus tahu diri, kita punya potensi apa sih? Apa yang bisa kita maksimalkan? Tapi juga jangan terlalu berambisi besar. Bukan nggak boleh, tapi harus disesuaikan dengan kondisi kita, agar mimpi itu membumi. Jangan berharap 100 %, terwujud, 50 % aja udah bersyukur gitu. Asyik-asyik aja lah.

Konsistensi bermusik selama 30 tahun ini membuat Mas Ary dinobatkan sebagai presiden indie oleh beberapa pihak. Bagaimana menurut mas?

Kalau saya kira ini kecelakaan. Saya terus terang nggak terlalu tertarik disebut presiden indie. Di satu sisi saya ingin menghargai pengakuan itu, tapi di sisi lain nggak usah lah pakai gitu-gitu. Saya secara pribadi mengakui saya nggak gitu-gitu amat, saya masih orang biasa aja. Dan presiden indie itu kan sebuah penghormatan aja, saya pikir ya itu harus saya hormati, biarin aja. Orang mau berpendapat seperti apa.

Kenapa sampai akhirnya terjadi istilah presiden indie, sebenarnya ada sejarahnya. Ketika itu saya dekat dengan Mukti-Mukti [musikus balada asal Bandung. red]. Selain itu ada beberapa musisi balada lain, Feri Kurtis, Adew, Hamzah. Nah, waktu itu kita bikin Katarung atau pentas solois balada. Musikus dari Yogya ada Kenyut Kubro, Encik Krisna, Untung, dan Doni Suwung. Di Bandung saya bersemangat dengan Mukti-Mukti, kita selalu berpandangan sama, guyonan Mukti: “Orang lain tuh banyak yang indie, kalau kita gede.” Jadi sebenarnya, kita ini indie tapi nggak indie. Indie tuh udah tercemar, jadi kita tuh INDIE [dengan nada bicara teriak. red]. Yang membuat saya bergairah adalah pemikiran-pemikiran baru, kita berani melawan arus. Lazimnya orang berkongres harus banyak orang. Kita berdua saja sudah disebut kongres. Kita seperti main-main tapi serius. Mukti yang punya inisiasi, dia jadi sekjen indie, nah saya jadi presiden indie.

Obrolan guyonan itu ternyata dikutip sama wartawan, dan masuklah koran. Saya pikir, satu sisi ya guyonan, tapi ya kita memang bersungguh-sungguh maksudnya dalam artian tentang presiden atau sekjennya. Kita ingin menyemangati diri sendiri dengan pergerakan yang kita lakukan gitu aja. Cuma kan kacamata wartawan lain lagi. Dia menulisnya dengan sangat serius, Ketika berita itu bergulir, orang menanggapinya dengan serius, ya nggak tahu saya. Bahkan waktu itu lucunya, udah kadung dinobatkan begitu, ya sudah kita bikin lagi kongres yang lain. Kita guyonan lagi, saya bilang “Sekarang saatnya ganti presiden.” Yang lain bilang “Nggak mau, kamu presiden seumur hidup.”

Kongres pertama itu tahun berapa kira-kira?

Sekitar 2004-2005.

Saya dengar Mas Ary suka Sawung Jabo. Pendapat mas tentang Pakde Jabo, sebagai panutan? Atau?

Jujur saya senang dengan beberapa musikus balada, termasuk Mukti Mukti, saya juga senang dengan apa yang Iwan Fals lakukan di masa lalu. Juga Mas Jabo, Leo Kristi, dan Ebith G Ade. Dan bahkan yang lain-lain di daerah, yang tidak masuk label selebritis lah. Ketika saya diajak Mas Jabo tur dan konser bareng tahun 2006 [Sejuta Cakrawala], dan 2007 [Memasuki Lorong Sunyi], saya merasa surprise luar biasa. Di situ saya merasa dihargai sekali. Saya sangat kagum dengan Mas Jabo, orangnya membumi. Tapi meski mengagumi, saya jujur dan berkata bahwa saya tidak terlalu tertarik dengan konsep seperti ketika dia tergabung dengan Kantata Takwa atau kasarnya saya bilang ke dia “Mas, terus terang saya nggak pernah bisa mendengarkan Sirkus Barock,” karena saya berangkatnya bukan dari musik rock, jadi kalau mendengar rock saya nggak antusias. Tetapi, ketika saya terlibat dengan karya Mas Jabo sebagai solois, saya suka sekali. Kalau disebut suka ya suka, cuma sangat suka dengan kekaryaan yang saya terlibat di dalamnya. Saya belajar banyak hal dari mas Jabo. Dia orang yang sangat teliti, perfeksionis. Sementara saya orang yang slenge’an dan sangat percaya pada spontanitas.

Mengenai laku kesenian Sawung Jabo selama ini, dalam pandangan Mas Ary masih bisa disebut indie atau gerilya tidak?

Bebas saja, saya merasa nggak punya hak juga untuk menghakimi bahwa saya lebih gerilya dari yang lain. Orang lain punya hak untuk bilang “Saya gerilya.” Menurut saya begini, gerilya atau indie adalah sebuah sikap yang tidak punya aturan mainnya, ya kita bikin aturan main sendiri, dan semua orang punya hak untuk klaim ini aturan main saya. Harus begitu. Istilahnya kalau agama ya bebaslah. Kamu mau sunni atau syiah, mau katolik atau kristen. Menariknya indie adalah ketika kita punya agama masing-masing dengan cara masing-masing. Kalau sekarang kembali ke pertanyaan apakah Jabo gerilya? Ya gerilya dengan caranya. Tapi saya tidak menjamin apa memang dia menyebut dirinya gerilya, itu harus ditanyakan ke yang berangkutan.

Saya jujur harus mengakui saya terlambat mendengarkan musik Ary Juliyant. Dan baru tadi saya nonton pertunjukan langsung. Saya perhatikan lagunya tadi temanya macam-macam, jenis musiknya juga. Di lagu “Koboi Kampungan”, tadi mas Ary bilang “Kritik diri sendiri dulu, koboinya tuh saya.” Tetapi sebagai orang yang baru kenal Ary Juliyant, yang baru mendengarkan, saya akan membacanya sebagai kritik buat presiden Amerika dengan kebijakan luar negerinya seperti ke Irak misalnya. Ada lagi lagu bertajuk “Plecing Kangkung”. Batasan Mas Ary untuk menulis lagu itu seberapa sih mas? Temanya apa? Sedapatnya ditulis, atau harus bahas ini itu?

Nggak. Bagi saya inspirasi akan datang dengan sendirinya ketika kita memutuskan ini asyik. Ini bisa menjadi, tidak membatasi diri.

Atau harus dengan kacamata gelisah seperti Mas Ary sebut tadi tadi dalam proses penulisan lagu?

Gelisah itu, dalam istilah saya. Sebenarnya adalah kita perlu selalu punya kegairahan. Itu lain konteksnya ketika kita mengambil satu topik yang kita dapat. Misalnya lagu “Plecing Kangkung”, yang menarik bagi saya dari plecing kangkung tuh ketika saya sekarang hidup di Lombok, di sana yang terkenal adalah plecing kangkung. Ide pertamanya menarik, plecing kangkung ini, pedes. Ketika saya coba kontemplasi: pedes, lidah, wah ini sama dengan nasihatnya ketika berbicara harus hati-hati biar nggak pedas.

Nah ide-ide ini kadang-kadang muncul dengan sendirinya. Ah, ini menarik untuk diangkat, begitu. Misalnya “Salam Kepada Ikan-Ikan”, itu kan hanya gara-garanya saya naik feri dari Bali ke Lombok, ngeliat pagi-pagi di laut ada lumba-lumba. Tiba-tiba ada sms dari teman saya yang cewek, isi smsnya “salam ya kepada ikan-ikan’, nah, ini menarik ini, dan jadi lagu. Dan ini bisa multi-interpretasi gitu, terserah orang, dalam liriknya “salam hangat kepada ikan-ikan di laut lepas, dari seberang selat, hingga samudera Indonesia, biru laut adalah cinta, yang membiarkanku hanyut seberangi O bahagia, yang membuatku berair mata.” Nah, bahagia tapi berair mata. Kontemplasinya bisa macam-macam. Terserah mau berangkat dari mana. Dari lingkungan bisa, dari hal lain bisa. Apa terserah. Jadi lagu yang saya tulis multi-interpretatif untuk banyak orang. Bermanfaat untuk orang lain bisa dipakai untuk apalah terserah. Bisa untuk mengangkat isu lingkungan, mungkin curhat apa.

Nah mengenai “Koboi Kampungan”, jelas ceritanya, saya akui saya sangat kesal ketika tahu cerita tentang hancurnya Irak oleh presiden Bush. Si Bush kan orang Texas. [di masa George W. Bush menjabat sebagai presiden Amerika, ia memerintahkan invasi ke Irak. red]. Cuma itu kan hanya contoh kasus, dijadikan lagu, dan di lagu itu diberikan penekanan komentar saya secara pribadi. Melihat dari kacamata saya, kok ingin menekankan bahwa invasi ke Irak itu ambisi pribadi Bush, bukan orang Amerika. Karena waktu itu saya dengar banyak orang Amerika yang sebenarnya nggak setuju [dengan invasi Amerika ke Irak].

Saya ingin menekankan, jangan menyalahkan orang Amerika secara keseluruhan, ini salah Bush di waktu itu. Menariknya bagi saya adalah banyak pertimbangan yang akhirnya jadi lagu itu, bukan semata-mata persoalan konteks itu [Bush], karena saya kan berangkat dulu dari musikus country, full country dengan banjo. Wah menarik ini, selama ini pergerakan kekaryaan musik country tuh nggak pernah ada yang mencoba membuat antitesis yang berbeda, nah saya pikir ini musik khas Amerika, ketika digunakan ini akan mengkritik orang Amerika sendiri, nah ini layak ini asyik gitu. Pertimbangan sebuah ide menjadi lagu itu banyak hal. Juga tidak tiba-tiba jadi lagu. Seperti lagu “Plecing Kangkung” itu saya butuh 5 hingga 7 tahun untuk menjadikannya. Liriknya sudah ada, musiknya belum, karena saya ketika mencari ngerasa “Ah nggak cocok nih”. Setelah 7 tahun baru ketemu “Ini asyik nih musiknya”, gitu.

Lama sekali ya proses kreatifnya?

Memang lama sekali, dan yang menarik adalah ketika di persoalan lirik, saya banyak memusikalisasi puisi teman-teman. Banyak yang puisi teman akhirnya menjadi musik, “Aku Tidak Tidur Manis” itu dari puisi Kartawi, “Wanita Hijau” itu puisi Kiki Sulistyo, “Beribu Kepada Televisi” itu puisinya Ki Jun. Jadi banyak tema puisi ini yang saya pikir kuat sekali, diksinya kuat, pesannya, saya pikir menarik jadi lagu, ya banyak cara lah.

Dan bagi saya kadang-kadang tidak bertema pun juga menarik. Bahkan saya punya lagu yang saya bikin bahasa sendiri. Saya mengarang bahasa sendiri, saya juga nggak ngerti apa artinya, ya nggak usah ada artinya. Maksud saya, pesannya adalah, bahwa musik itu tidak selalu harus punya pesan, jadi nikmati aja musiknya. Titik. Contohnya begini, ketika kita mendengarkan lagu Spanyol, apa kita ngerti bahasanya? Nggak, tapi lagu latin asyik, ya sudah nikmati aja. Jadi kadang kita harus melepaskan beban musik yang seolah harus selalu menyampaikan pesan. Makanya saya kadang juga menulis musik instrumental, bagi saya instrumen itu sudah cukup menjadi bahasa untuk menyampaikan pesannya. Bahasanya adalah bahasa rasa. Makanya kenapa akhirnya saya juga banyak terlibat dengan musik eksperimental.

Bahkan sekarang saya tertarik menyebutnya bukan musik, melainkan bunyi. Saya sebut bunyi aja. Bagi saya nggak ada istilah fals dalam konteks tertentu. Kita menyepakati nilai estetika lagu. Misalnya free jazz, orang yang nggak ngerti “Wah ini ngaco nih”, karena belum biasa. Nah bagi yang sudah biasa tahu, bukan ngaco, itu ada pertanggungjawabannya. Jadi kalau orang melihat bentuk musik itu nggak harmoni, belum biasa aja melihat yang seperti itu. Kita harus membuat kesepakatan-kesepakatan baru. Jadi kalau saya membuat itu ingin membuat yang lain berpikir ayo kita out of frame, jangan diperbudak oleh sistem yang sudah mapan. Kalau kita nggak setuju dengan sistem itu ya bikin sendiri lah.

Mas Ary mengikuti pemilu Amerika sekarang? Tidak ingin menulis “Koboi Kampungan” jilid dua?

Saya nggak tertarik, karena kalau dibikin “jilid dua” kesannya naif ya. Bukannya saya ingin beda nggak juga, nggak tertarik aja. Tapi nggak tahu kalau nanti ya, kalau sekarang belum. Saya bilang belum menarik untuk direspon.

Karena banyak orang bilang ini genting ketika Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat. Belum tertarik menulis lagu mungkin karena mas Ary ingin menghindari kesan reaksioner?

Nah iya. Kadang-kadang menurut saya, keputusan melihat ini bagus nggak atau layak diangkat nggak ketika kita menemukan titik kecerahan. Misalnya gini, kita pandang konteksnya dari presiden Amerika saat itu Bush, orang Texas. Ya sudah jadilah bisa bikin lagu “Koboi Kampungan” untuk menggambarkan seorang koboi kampungan yang bertindak suka-suka semacam berandalan, bahkan di negara orang lain. Koboi nggak akan seru dalam konteks Trump. Asyiknya, saya lihat dulu Donald Trump ini gimana, ngapain sih dia? Ada apa? Ada sisi mana yang menarik untuk diangkat, saya belum melihat mana yang menarik untuk diangkat. Walau saya tahu bahwa dia rasis. Tetapi rasis ini pun sudah cukup diwakili oleh lagu lagu saya di “Koboi Kampungan”.

Terakhir, ada pesan-pesan untuk generasi muda yang baru mulai bermusik?

Pesan saya, tetap bergerak! Saya percaya tiap orang punya jalannya masing-masing. Jam terbangnya kan beda-beda. Maka, lakukan dan percayalah. Jangan juga cepat puas. Perhatikan bahwa yang penting itu proses, bukan hasil. Referensi harus selalu ditambah, jangan lelah belajar. Jadilah diri sendiri, be yourself!

Aris Setyawan

Aris Setyawan

Etnomusikolog dan musikus. Baru saja menerbitkan buku pertamanya "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017. Warning Books/Tan Kinira Books). Bisa dihubungi di surel arisgrungies@gmail.com, instagram setyawanaris, atau twitter @arissetyawan. Bercerita di arissetyawanrock.wordpress.com
Aris Setyawan

Latest posts by Aris Setyawan (see all)